Bab 1
Rumah yang Menunggu
Kabut di Sukamaju tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya berubah bentuk: pagi menjadi selimut tipis yang menempel di kaki bukit, siang menguap ke langit-langit yang kelabu, dan malam turun lagi seperti air yang dituang perlahan dari atas, memenuhi setiap celah di antara rumah-rumah sampai tidak ada lagi yang bisa dilihat selain putih.
Azel turun dari bus antarkota pukul empat sore, dengan satu ransel di punggung dan satu koper yang rodanya rusak sebelah. Bus itu pergi lagi sebelum ia sempat menyesuaikan diri dengan udara—dan udara itu, ia baru sadar, berbeda. Di kota, udara punya bau: aspal panas, asap motor, gorengan dari warung pinggir jalan. Di sini udara tidak berbau apa pun. Ia hanya dingin, dan lembap, dan seperti baru saja dipakai orang lain.
Terminal kecil itu bukan terminal, hanya halaman beraspal retak dengan papan nama yang hurufnya sudah pudar. Ada bangku panjang, satu lampu yang menyala meski hari masih terang, dan seorang lelaki tua yang duduk di bawah pohon, mengunyah sesuatu, menatapnya seperti menatap cuaca.
"Rumah Harsini?" tanya lelaki itu, sebelum Azel sempat membuka mulut.
Azel mengangguk pelan. Neneknya bernama Harsini. Nenek yang tidak pernah ia temui semasa hidup, yang namanya hanya muncul tiga kali dalam hidupnya: di akta lahir ibunya, di satu foto lusuh yang ibunya simpan di dompet selama bertahun-tahun, dan di surat dari pengacara dua minggu lalu—surat yang menyatakan bahwa satu-satunya ahli waris Harsini adalah seorang perempuan yang sudah meninggal dua tahun lalu, dan bahwa hak itu turun kepada anaknya.
"Jalan terus. Belok kiri di gereja tua. Jangan berhenti di depan sumur." Lelaki itu menunjuk dengan dagunya, lalu kembali mengunyah.
"Maaf, Pak. Sumur yang mana?"
Tapi lelaki itu sudah tidak mendengarkan. Azel berdiri beberapa detik lebih lama dari yang perlu—menunggu penjelasan yang tidak datang—lalu mengangkat koper dan mulai berjalan.
Jalanan menanjak. Rumah-rumah di kiri-kanan berjarak jauh, masing-masing punya pagar yang lebih tinggi dari penghuninya. Ada yang menanam pohon pisang, ada yang membiarkan halamannya jadi rumput liar. Azel menghitung: tujuh rumah, dua di antaranya kosong, jendelanya dipaku papan. Di satu halaman, seorang perempuan sedang menjemur pakaian, dan ia berhenti menjemur saat Azel lewat, menatapnya sampai Azel berbelok.
Gereja tua itu masih berdiri, meski catnya mengelupas sampai kelihatan bata di bawahnya. Di seberangnya ada jalan setapak yang lebih sempit, ditutupi lumut. Azel berbelok.
Rumah neneknya adalah rumah terakhir di ujung jalan, dan ia tahu itu rumahnya sebelum membaca nomornya, karena ada sesuatu pada rumah itu yang terasa seperti menunggu. Dindingnya putih kusam, atapnya genting tanah, dan di depan pagar besinya tumbuh bunga yang tidak ia kenali—putih kecil, tumbuh berkelompok, seolah ada yang menanamnya dengan tangan yang sangat sabar, lalu merawatnya jauh lebih lama daripada yang wajar.
Azel membuka pagar. Besinya berderit panjang, dan suara itu bergema di jalan yang sepi seperti sesuatu yang dibangunkan dari tidur panjang.
Kuncinya ada di amplop cokelat yang dikirim pengacara. Azel mengeluarkannya, memasukkan ke lubang, memutar. Terdengar klik. Pintu terbuka ke dalam kegelapan yang berbau kayu dan kapur dan sesuatu yang manis, seperti bunga yang diletakkan di dalam buku.
Ia masuk, dan rumah itu menerimanya dengan sunyi.
Ruang tamu. Sofa kayu dengan bantal yang sudah kempes. Meja dengan taplak renda. Di dinding, sebuah cermin besar berbingkai ukiran, dan di bawahnya, foto-foto dalam bingkai kayu: seorang perempuan tua dengan wajah tenang, seorang perempuan muda yang mirip ibunya, dan satu foto yang membuat Azel berhenti.
Foto itu hitam putih, sedikit kabur, tapi jelas menunjukkan dua anak laki-laki berdiri di depan rumah ini. Yang lebih tinggi memakai kemeja putih, tangannya di bahu yang lebih pendek. Yang lebih pendek tersenyum lebar, seperti baru saja melakukan sesuatu yang nakal, dan di tangannya ada sesuatu yang tidak bisa Azel kenali—mungkin layang-layang, mungkin potongan kayu.
Azel membalik bingkai itu. Di belakangnya, dengan tulisan tangan yang miring dan rapi, tertulis: *Harsini dan adiknya, 1961.*
Ia tidak tahu neneknya punya adik.
Ia meletakkan bingkai itu kembali dengan hati-hati, dan untuk beberapa detik ia berdiri di sana, merasakan sesuatu yang aneh: bahwa ia sedang berdiri di dalam hidup orang lain, di rumah yang penuh dengan orang-orang yang sudah meninggal, dan bahwa tidak ada satu pun dari mereka yang pernah ia kenal.
Ibunya tidak pernah bercerita. Bukan karena pelit cerita—ibunya orang yang suka bercerita, tentang apa saja, tentang tetangga, tentang harga cabai, tentang film yang ia tonton dua kali di bioskop. Tapi soal Sukamaju, soal Harsini, ibunya punya satu kalimat yang selalu dipakai untuk menutup pembicaraan: *"Nanti saja, kalau kamu sudah besar."*
Dan sekarang Azel sudah besar, dan ibunya sudah tidak ada, dan kalimat itu tidak akan pernah selesai.
Ia menyusuri rumah. Dapur, dengan tungku yang masih berjelaga dan rak bumbu yang kosong. Satu kamar di lantai bawah, tempat tidur dengan kelambu yang digulung, pintunya terkunci—ia mencoba gagangnya, berputar tapi tidak terbuka. Tangga kayu menuju lantai dua, dan di ujung tangga, satu kamar lagi dengan jendela yang menghadap bukit.
Azel memilih kamar lantai dua. Ia membuka jendela lebar-lebar untuk mengusir bau pengap, lalu berdiri di sana, menatap kabut yang mulai naik dari lembah seperti asap dari sesuatu yang terbakar jauh di bawah.
Dan di tengah kabut itu, ia melihat seseorang berdiri di jalan.
Anak laki-laki. Umur belasan. Jaket abu-abu, tangan di kantong, posisi kaki sedikit terbuka seperti orang yang sudah lama berdiri di situ. Berdiri diam, menatap rumah ini, tidak bergerak seperti orang yang sedang menunggu bus atau menunggu hujan reda. Seperti orang yang sedang menghitung sesuatu.
Azel mengangkat tangan, ragu-ragu, memberi isyarat sopan bahwa ia melihatnya.
Anak itu tidak membalas. Ia hanya berbalik, pelan, dan berjalan menghilang ke dalam kabut, dan kabut menutup jejaknya seperti air menutup batu yang dilempar.
Azel menutup jendela. Ia merasakan sesuatu yang aneh di tengkuknya, semacam dingin yang tidak berasal dari udara. Ia mengusapnya, lalu tertawa kecil pada dirinya sendiri.
"Kota kecil. Semua orang ngeliatin orang baru," katanya, kepada tidak siapa-siapa.
Ia menata barang-barangnya: pakaian di lemari yang berbau kapur, buku-buku di atas meja, laptop di lantai karena tidak ada kursi. Foto ibunya ia letakkan di nakas, dalam bingkai kecil yang ia bawa dari kontrakan. Foto itu diambil di pantai, enam tahun lalu, dan ibunya tersenyum dengan mata setengah tertutup karena matahari.
Azel menatap foto itu cukup lama, sampai ia merasa bodoh, lalu menutupinya dengan handuk.
Malam pertama, ia tidak bisa tidur.
Bukan karena suara. Justru karena tidak ada suara. Di kota, selalu ada sesuatu: motor lewat, tetangga batuk, televisi di lantai bawah, kulkas yang berdengung. Di sini, sunyi itu punya berat. Azel berbaring dengan mata terbuka, mendengarkan atap, mendengarkan angin, mendengarkan darahnya sendiri.
Pukul sebelas lewat, ia mendengar langkah di lantai bawah.
Pelan, teratur. Kaki telanjang di papan kayu—ia tahu itu kaki telanjang karena ada bunyi kulit yang menempel lalu lepas, menempel lalu lepas. Dari dapur, melewati ruang tamu, berhenti di depan tangga.
Azel duduk. "Halo?" suaranya keluar lebih kecil dari yang ia maksud.
Tidak ada jawaban. Langkah itu tidak naik. Ia hanya berhenti, dan Azel mendengar sesuatu yang lain: bunyi kain bergesekan, sangat pelan, seperti orang mengusap meja dengan telapak tangan, bolak-balik, dengan gerakan yang sabar.
Ia menyalakan lampu senter dari ponsel, membuka pintu kamar, dan menatap tangga.
Kosong. Ruang tamu di bawah gelap, hanya bercak cahaya bulan di lantai. Tidak ada siapa-siapa.
Azel menuruni tangga, satu per satu, dengan jantung yang berdetak terlalu cepat untuk sesuatu yang ia sendiri tidak percaya. Ia menyalakan lampu ruang tamu. Sofa. Meja. Cermin. Foto-foto. Semuanya di tempatnya.
Dan di atas meja, taplak renda itu kini berkerut di satu sisi, seperti baru saja disentuh.
Azel berdiri di sana cukup lama, menatap kerutan itu, dan merasakan sesuatu yang bukan takut—atau bukan hanya takut. Ada rasa malu di dalamnya, malu karena ia sudah dewasa, karena ia baru saja lulus sekolah, karena ia seharusnya sudah tidak percaya hal-hal seperti ini.
Lalu ia melakukan hal yang selalu ia lakukan kalau takut: ia bicara.
"Oke," katanya, pelan. "Aku baru di sini. Namaku Azel. Aku cucu Harsini." Ia menelan ludah. "Kalau ini rumah kamu juga, kita bisa bagi. Aku di lantai atas. Kamu di bawah. Jangan masuk kamar aku, aku nggak masuk kamar kamu. Deal?"
Sunyi.
Azel menunggu tiga detik, merasa bodoh, lalu menambahkan: "Aku nggak akan ganggu. Aku cuma mau tinggal sampai aku tahu harus ke mana."
Sunyi, lagi, dan kali ini sunyi itu terasa berbeda—bukan kosong, tapi seperti seseorang yang sedang mempertimbangkan.
Azel mematikan lampu dan naik ke kamar. Ia mengunci pintu—pintu kamar itu punya kunci tua yang berderit—lalu berbaring lagi, dan menatap langit-langit, dan berpikir bahwa besok ia harus mencari warung, mencari sinyal, mencari tahu apakah ada bus yang lebih awal.
Pukul tiga pagi, sesuatu mengetuk pintu kamarnya. Tiga kali. Teratur. Seperti orang yang tahu persis siapa yang ada di dalam, dan sudah memutuskan untuk tidak buru-buru.
Azel tidak membuka. Ia menarik selimut sampai dagu, dan berbaring kaku, dan menghitung sampai seratus, lalu sampai dua ratus, dan ketika ia selesai menghitung, ketukan itu sudah tidak ada—tapi ia tetap tidak bisa tidur sampai langit mulai terang.
Pagi berikutnya, kabut masih ada, dan Azel turun ke jalan dengan mata kurang tidur dan perut kosong. Ia butuh makan, dan ia butuh tahu di mana warung terdekat, dan ia butuh memastikan bahwa langkah tengah malam itu adalah pipa air yang memuai, atau tikus, atau apa pun yang masuk akal.
Di tikungan sebelum gereja, anak laki-laki dari kemarin berdiri di depan sepeda tuanya, mengikat keranjang ke belakang.
Ia mengangkat kepala saat Azel mendekat. Wajahnya tajam, kulitnya agak gelap karena sering di luar, dan matanya—Azel baru sadar ini sekarang, di bawah cahaya pagi yang datar—punya warna yang sulit disebut: cokelat yang terlalu terang, hampir seperti madu kena matahari. Ada bekas luka tipis di pelipis kirinya, sudah lama, sudah memutih.
"Kamu yang pindah ke rumah Bu Harsini," katanya. Bukan tanya.
"Iya. Azel." Azel mengulurkan tangan.
Anak itu menatap tangannya satu detik terlalu lama sebelum menyambutnya. Tangannya dingin. "Noah."
"Noah...?"
"Noah aja." Ia melepas tangan, kembali ke keranjangnya. "Kamu semalam ngedenger sesuatu?"
Azel tertawa, tapi tawanya terdengar aneh di udara pagi. "Kenapa kamu nanya gitu?"
"Noah." Ia mengangkat bahu. "Rumah itu lama kosong. Biasanya orang baru nggak tidur nyenyak."
"Ada yang jalan di lantai bawah. Terus ada yang ngetuk pintu kamar aku jam tiga." Azel menatapnya. "Kamu tahu kenapa?"
Noah berhenti mengikat tali. Ia tidak terlihat takut. Ia terlihat seperti orang yang sedang menghitung sesuatu, sama seperti semalam, waktu ia berdiri di kabut.
"Kamu buka pintunya?" tanyanya.
"Nggak."
"Noah." Ia mengangguk pelan, seperti mencatat jawaban yang benar. "Bagus. Jangan pernah buka kalau yang ngetuk tiga kali. Yang ngetuk empat kali, itu aku."
Azel menunggu penjelasan. Tidak ada. Noah menaiki sepedanya, menjejak pedal, dan berhenti lagi setelah beberapa meter.
"Warung Bu Tini di depan gereja. Bilang aja kamu anaknya Bu Harsini, dia nggak akan nagih hari ini." Ia melirik. "Dan Azel—"
"Iya?"
"Jangan lewat sumur habis magrib."
Ia pergi, dan Azel berdiri di jalan, merasakan dingin yang sama seperti semalam merayap di tengkuknya.
Ia menoleh ke arah rumah neneknya. Dari sini, jendela kamarnya terlihat seperti mata yang terbuka.
Dan untuk sesaat, sangat singkat, ia merasa yakin ada seseorang berdiri di balik jendela itu, menatapnya kembali—dan bahwa orang itu tidak sedang menghitung apa pun lagi, karena hitungannya sudah selesai.