Bab 1
Kamar Nomor Delapan
Kos itu tidak punya nama. Di pagar besinya hanya ada angka 14 yang catnya mengelupas, dan di bawahnya papan kecil bertulisan "Kamar Kosong" yang sudah tiga tahun tidak pernah diturunkan meski tidak ada kamar yang kosong.
Alya memindahkan koper terakhirnya melewati ambang pintu pada pukul empat sore, saat hujan baru berhenti dan aspal masih mengeluarkan uap. Pemilik kos, Bu Ratna, menyerahkan kunci dengan tangan yang tidak pernah berhenti menggenggam sapu kecil.
"Nomor delapan," katanya. "Yang paling ujung."
Lorong itu panjang dan sempit, cukup untuk satu orang berjalan tanpa menyentuh dinding di kedua sisi. Ada enam pintu di kiri, enam di kanan, dan di ujungnya โ tepat di atas pintu terakhir โ sebuah lampu neon berbentuk tabung menyala pucat. Lampu itu satu-satunya sumber cahaya di lorong. Tidak ada jendela. Tidak ada saklar.
Alya membuka kamarnya, menyalakan lampu, dan mulai menata barang. Di tengah pekerjaan itu ia menyadari sesuatu: lampu di ujung lorong tadi tidak berkedip sama sekali. Bukan berarti mati. Justru sebaliknya โ ia menyala terlalu rata, seperti gambar yang ditempel di dinding.
Pukul sembilan malam, seseorang mengetuk. Alya membuka pintu dan mendapati seorang perempuan seusianya berdiri di sana, memakai sweter abu-abu meski udara tidak dingin.
"Kamu yang baru?" tanyanya. "Aku Sari, nomor enam. Maaf mengganggu. Cuma mau bilang satu hal."
Alya menunggu.
"Jangan pernah menyalakan lampu lorong itu. Biarkan seperti sekarang."
"Aku bahkan tidak tahu ada saklarnya," kata Alya.
Sari tersenyum tipis, lalu kembali ke kamarnya tanpa suara. Alya berdiri di ambang pintu beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya, menatap lampu di ujung lorong, dan untuk pertama kalinya ia menghitung pintu. Enam di kiri, enam di kanan. Dua belas. Tapi nomornya berakhir di delapan.
Dua belas pintu. Delapan kamar. Alya memutuskan bahwa ia terlalu lelah untuk berhitung malam ini.