Bab 10
Penjaga Baru
Sebulan kemudian, Sukamaju sudah lupa bahwa ada sesuatu yang aneh di rumah ujung jalan.
Bukan lupa sepenuhnya—kampung kecil tidak pernah benar-benar lupa. Tapi mereka berhenti membicarakannya. Bu Tini berhenti menurunkan suaranya kalau menyebut nama Harsini. Penjual ikan kembali berjualan sampai magrib. Anak-anak kembali bermain di depan gereja, dan tidak ada yang melarang mereka lewat dekat sumur.
Sumur itu sendiri sekarang tertutup lumut, dan orang-orang bilang itu karena musim hujan. Tidak ada yang memperhatikan bahwa lumutnya tumbuh terlalu cepat, atau bahwa di sekitar sumur selalu lebih dingin tiga derajat daripada di tempat lain.
Azel tahu. Azel selalu tahu, karena setiap pagi ia berjalan ke pasar, melewati sumur, dan berhenti sebentar untuk memastikan tidak ada yang berubah.
Ia juga tahu bahwa ia tidak bisa pergi dari Sukamaju.
Bukan karena tidak ada bus—bus masih datang dua kali sehari. Tapi setiap kali ia mencoba, sesuatu menahannya: kaki yang tiba-tiba berat, kepala yang tiba-tiba pusing, dan perasaan bahwa kalau ia melangkah ke dalam bus itu, sesuatu di rumah akan terbuka dan tidak akan pernah tertutup lagi.
"Noah," kata Noah suatu sore, ketika Azel menceritakan itu. "Itu harga."
"Maksud kamu?"
"Noah." Noah duduk di teras, memeriksa rantai sepeda. "Kamu nyebut nama kamu di tempat itu. Kamu ngasih diri kamu jadi penjaga. Penjaga nggak bisa pergi. Nenek kamu juga nggak bisa, selama empat puluh tahun."
Azel menatap jalan yang menurun ke arah pasar. "Jadi aku di sini sampai mati."
"Noah." Noah mengangkat bahu. "Atau sampai ada penjaga baru."
Azel menoleh. "Ada penjaga baru?"
"Noah." Noah tersenyum, dan senyumnya miring. "Kamu punya anak nanti, mungkin."
Azel melempar bungkus kue ke arahnya. Noah menangkapnya, tertawa, dan untuk beberapa saat mereka hanya duduk di sana, di teras rumah tua dengan cat yang mulai mereka perbaiki, dan tidak ada yang perlu dikatakan.
Pekerjaan perbaikan itu memakan waktu dua minggu. Mereka mengecat dinding ruang tamu—putih, karena Azel bilang rumah itu sudah terlalu lama gelap—dan memperbaiki tiga papan lantai yang berderit, dan mengganti lampu teras yang sudah mati sebelas tahun.
"Noah," kata Noah, suatu sore, sambil menahan tangga. "Kamu tahu nggak, rumah ini sekarang lebih terang dari rumah aku."
"Rumah kamu nggak punya lampu teras?"
"Noah." Noah tertawa. "Rumah aku nggak punya alasan buat punya lampu teras."
Azel berhenti mengecat, dan menoleh ke bawah, dan Noah menatapnya dari bawah tangga, dan untuk beberapa detik tidak ada yang bicara.
"Terus sekarang punya alasan?" tanya Azel.
"Noah." Noah mengangkat bahu, dan telinganya memerah. "Kalau kamu mau, aku bisa pasangin."
Bu Tini adalah orang pertama di kampung yang bertindak normal.
Ia datang suatu pagi dengan dua bungkus kue dan satu teko teh, dan ia duduk di teras seperti sudah seratus kali duduk di situ, dan ia tidak menanyakan apa pun tentang cermin, kabut, atau malam tanggal dua puluh tujuh.
"Jadi," katanya, sambil menuang teh. "Kamu tinggal di sini sekarang."
"Aku tinggal di sini," kata Azel.
"Sendiri?"
Azel menoleh ke dalam rumah, ke arah suara orang memperbaiki kursi di dapur.
"Noah." Bu Tini mengangguk, dan tidak bertanya lebih jauh, dan Azel merasa berterima kasih dengan cara yang tidak bisa ia jelaskan. "Dulu nenek kamu juga nggak pernah sendirian. Selalu ada yang bantu. Selalu ada yang masak."
"Aku nggak bisa masak," kata Azel. "Aku gosongin tempe."
"Noah." Bu Tini menatapnya. "Nenek kamu juga gosongin tempe."
Dan itu—anehnya—membuat Azel merasa lebih diterima daripada kalimat apa pun yang pernah ia dengar di kampung ini.
Noah sekarang bekerja penuh di bengkel bapaknya. Ia bangun pukul enam, membuka rolling door, dan menghabiskan hari dengan tangannya di mesin. Ia tidak lagi melihat orang mati. Ia tidak lagi terbangun karena ada yang berdiri di kaki tempat tidurnya. Ia tidur nyenyak untuk pertama kalinya sejak umur tujuh tahun.
Tapi kadang, di tengah hari, ia berhenti bekerja dan menatap ke arah jalan, dan Azel—yang sering datang membawa makan siang—tahu apa yang ia pikirkan.
"Kamu kangen bisa lihat mereka?" tanya Azel, suatu hari, sambil duduk di atas ban bekas di sudut bengkel.
"Noah." Noah mengusap tangannya dengan kain. "Aku kangen bisa lihat kakek aku. Bukan yang lain."
"Kamu bisa lihat dia lagi kalau kamu masuk cermin."
"Noah." Noah menatapnya tajam. "Sekali lagi aku masuk ke situ, aku nggak akan keluar. Kita berdua tahu itu."
Azel mengangguk. Ia tahu. Ia sudah membaca semua tujuh buku Harsini, dan di buku ketujuh—buku yang ditulis Harsini di tahun-tahun terakhirnya—ada satu kalimat yang tidak pernah ia lupakan:
*Ambang tidak pernah benar-benar tertutup. Ia hanya tidur. Dan yang tidur selalu bangun kalau ada yang mengingatkannya.*
"Noah," kata Noah, setelah beberapa saat. "Bapak aku nanya soal kamu."
Azel menoleh. "Nanya apa?"
"Noah." Noah menggosok tangannya lebih keras dari yang perlu. "Dia nanya kenapa aku tiap hari ke rumah Harsini. Aku bilang aku bantu benerin rumah." Ia berhenti. "Dia nggak percaya."
"Terus?"
"Noah." Noah menatapnya. "Aku bilang kamu temen aku. Dia diem. Terus dia bilang, 'bawa ke rumah, aku mau lihat'."
Azel menatapnya. "Kamu mau aku ketemu bapak kamu?"
"Noah." Noah mengangkat bahu, dan telinganya memerah lagi. "Kalau kamu nggak mau, aku bilang kamu sibuk."
"Aku mau." Azel berdiri. "Kapan?"
"Noah." Noah menatapnya, dan senyumnya miring, dan matanya terlalu terang. "Minggu. Makan malam."
Azel mengangguk, dan merasakan sesuatu yang aneh: bahwa ia baru saja masuk ke dalam kabut, berhadapan dengan sesuatu yang sudah enam puluh tahun memakan nama orang, dan ia lebih takut pada makan malam di rumah bapak Noah.
Azel tidak lagi bangun tengah malam karena mendengar langkah. Rumah itu, untuk pertama kalinya sejak ia masuk, terasa seperti rumah—bukan seperti sesuatu yang menahan napas.
Cermin besar di ruang tamu masih retak, dan tidak bisa dilepas—Azel sudah mencoba, dua kali, dan kedua kali tangannya berhenti sendiri di udara sebelum menyentuh bingkai. Ia hanya membersihkannya, setiap minggu, dan kadang ia berdiri di depannya dan menatap pantulannya sendiri.
"Noah," katanya suatu malam, saat Noah sedang tidur di sofa dengan kepala di pangkuannya. "Kamu pernah mikir, kalau aku nggak pindah ke sini, kamu bakal gimana?"
Noah membuka satu mata. "Aku bakal tetap di sini, ngeliat hal-hal yang nggak ada yang percaya, dan mati umur empat puluh karena aku nggak bisa tidur."
"Serius."
"Noah." Noah menutup matanya lagi. "Aku serius. Kamu nanya hal yang nggak bisa aku bayangin." Ia bergeser, mencari posisi yang lebih nyaman. "Kenapa? Kamu nyesel?"
"Enggak." Azel mengusap rambut Noah, pelan. "Aku cuma mikir, aku harusnya pindah ke sini lebih lama."
"Noah." Noah tertawa, kecil. "Kamu baru lulus. Kamu nggak punya alasan buat pindah ke sini sebelum nenek kamu mati."
"Terus sekarang aku punya alasan?"
Noah membuka mata, dan menatapnya dari bawah, dan senyumnya miring.
"Noah." Ia mengangkat tangan, dan menarik leher Azel ke bawah, dan menciumnya dengan sudut yang canggung karena posisi mereka. "Sekarang kamu punya dua."
Malam tanggal dua puluh tujuh bulan berikutnya, Azel duduk di ruang tamu dengan lampu menyala dan cermin retak di dinding. Noah tertidur di sofa, dengan kepala di pangkuan Azel, dan napasnya teratur.
Pukul dua belas, Azel mendengar sesuatu.
Bukan ketukan. Bukan langkah. Suara air, sangat pelan, dari arah sumur di belakang pasar—sejauh satu kilometer dari rumah ini, dan tetap terdengar sejelas kalau sumur itu ada di kamar sebelah.
Azel menahan napas. Di pangkuannya, Noah bergerak, tapi tidak bangun.
Suara itu berhenti.
Lalu, sangat pelan, sesuatu yang lain: suara seseorang yang berjalan di kerikil, jauh, di ujung jalan, dan berhenti di depan pagar.
Azel menunggu. Ketukan tiga kali tidak datang.
Yang datang adalah suara, pelan, dari arah pagar, yang hanya bisa didengar oleh orang yang punya tanda di tengkuknya:
"Penjaga. Ada yang baru datang. Bukan aku. Dia lebih tua dari aku."
Azel menatap cermin retak di dinding. Di dalamnya, untuk sesaat, ia melihat pantulan yang bukan dirinya: seorang perempuan dengan kebaya gelap, rambut disanggul rapi, dan senyum yang sangat tipis.
Neneknya mengangkat tangan, seperti melambai, lalu menghilang.
Azel menarik napas panjang. Ia menggeser kepala Noah dengan hati-hati, meletakkannya di bantal, dan berdiri. Ia mengambil jaket dari sandaran kursi, memasukkan liontin tembaga yang retak ke kantong, dan berjalan ke pintu.
Di ambang pintu, ia berhenti, dan menoleh ke sofa.
"Noah," katanya, pelan. "Bangun. Kita ada tamu."
Noah membuka mata, mengerjap, dan tanpa bertanya apa pun—tanpa bertanya siapa, atau kenapa, atau apakah ini berbahaya—ia bangkit, mengambil jaketnya, dan berdiri di samping Azel.
"Noah," katanya, sambil menyandarkan bahu ke bahu Azel. "Aku nggak bisa lihat mereka lagi."
"Aku tahu."
"Jadi kali ini kamu yang lihat, dan aku yang jaga punggung kamu."
Azel menatapnya, dan di bawah lampu teras yang baru mereka pasang, dengan kabut yang mulai turun lagi dari bukit, ia merasakan hal yang sama seperti malam pertama: bahwa rumah ini bukan rumah yang menunggu sesuatu.
"Deal," katanya.
Mereka melangkah keluar bersama, ke dalam kabut, ke dalam malam yang penuh dengan nama-nama yang belum dikenal—dua orang, satu penjaga, dan satu yang tidak lagi bisa melihat tapi tetap memilih tinggal.
Di belakang mereka, pintu rumah menutup sendiri, pelan, seperti seseorang mengucapkan selamat malam.
Dan di dalam rumah, di ruang tamu, cermin retak itu memantulkan ruangan yang kosong—kosong, kecuali satu bayangan yang berdiri di sudut, menunggu, dengan tangan terlipat di depan dada, seperti penjaga yang akhirnya boleh beristirahat.
*TAMAT — untuk sementara.*
Ini bab terakhir yang tersedia. Terima kasih sudah membaca.