← Ambang

Bab 2

Yang Mengetuk Tiga Kali

Warung Bu Tini adalah bangunan kecil di seberang gereja, dengan etalase kaca yang menampilkan keripik dalam plastik bening dan telur yang disusun dalam keranjang. Aroma minyak goreng dan kopi bubuk menyerbu hidung Azel begitu ia membuka pintu, dan untuk pertama kalinya sejak turun dari bus, ia merasa seperti berada di tempat yang benar-benar ada di peta.

Bu Tini perempuan gemuk dengan suara yang mengisi seluruh ruangan. Ia menatap Azel dari ujung rambut sampai ujung sepatu, lalu meletakkan tangannya di dada.

"Anaknya Harsini," katanya, dan suaranya turun satu oktaf, seperti orang menyebut nama yang tidak boleh disebut terlalu keras. "Astaga. Kamu mirip ibumu. Kamu tahu ibumu dulu juga duduk di kursi itu, tahun... tahun berapa ya, sembilan puluh delapan? Dia datang sendiri, umurmu sekarang berapa?"

"Delapan belas."

"Delapan belas." Bu Tini mengangguk, mengulangi angka itu seperti doa. "Duduk. Mau makan apa? Kamu kurus. Kamu pasti nggak makan sejak kemarin."

Azel duduk, dan dalam sepuluh menit ia mendapat sepiring nasi, telur dadar, tempe, dan satu gelas teh yang terlalu manis. Bu Tini duduk di seberangnya, menyandarkan dagu ke tangan, dan mulai bercerita tanpa perlu ditanya.

Tentang rumah Harsini yang sudah kosong sebelas tahun. Tentang Harsini yang meninggal di kota, di rumah sakit, jauh dari rumahnya sendiri, dan mayatnya dibawa pulang untuk dikubur di bukit belakang gereja. Tentang bagaimana, selama sebelas tahun itu, tidak ada satu orang pun di Sukamaju yang berani menyewa rumah itu, meski harganya sudah diturunkan sampai setengah.

"Kenapa nggak ada yang mau?" tanya Azel, meski ia sudah tahu sebagian jawabannya.

Bu Tini menurunkan suaranya. "Karena rumah itu punya... tetangga."

"Tetangga?"

"Ada yang tinggal di situ." Bu Tini menunjuk dengan sendok ke arah jendela, ke arah bukit yang tertutup kabut. "Bukan orang. Bukan juga hantu yang suka ganggu. Dia cuma... tinggal. Diam. Tapi kalau ada orang baru masuk, dia penasaran. Dia ngetuk. Dia jalan di lantai bawah." Ia menatap Azel. "Kamu semalam ngedenger?"

Azel mengangguk pelan.

Bu Tini menghela napas panjang, seperti orang yang sudah lama menunggu pertanyaan ini. "Dengerin. Di kampung ini ada aturan yang orang tua-tua turunin. Nggak tertulis, tapi semua orang tahu. Pertama: kalau ada yang ngetuk tiga kali, jangan dibuka. Tiga kali itu bukan orang. Orang ngetuk dua kali, atau empat, atau nggak karuan. Tiga kali itu... tanda."

"Tanda apa?"

"Tanda dia mau masuk." Bu Tini menatapnya lurus. "Kedua: habis magrib, jangan lewat sumur di belakang pasar. Sumur itu sudah ditutup tahun tujuh puluhan, tapi masih ada yang denger suara dari dalam. Ketiga—" ia berhenti, mengangkat gelas, menyeruput, dan meletakkannya kembali dengan bunyi kecil yang keras di meja.

"Ketiga?"

"Jangan pernah bilang namamu di depan cermin besar rumah itu habis jam dua belas malam."

Azel tertawa. Ia tidak bisa menahannya. "Bu, itu kayak film horor."

Bu Tini tidak ikut tertawa. Ia hanya menatap Azel, dan tatapan itu membuat tawa Azel mengering di tenggorokannya seperti air di tanah kering.

"Anak Harsini," katanya, pelan. "Nenekmu nggak pernah keluar rumah setelah jam sembilan malam, selama empat puluh tahun terakhir hidupnya. Kamu tahu kenapa? Karena dia tahu apa yang ada di rumah itu. Dan dia memilih tinggal di situ, menjaga. Kamu pikir itu kenapa?"

Azel tidak punya jawaban.

Ia pulang lewat jalan yang sama, dengan perut penuh dan kepala penuh. Kabut sudah mulai turun, meski baru pukul setengah lima. Ia berjalan cepat, melewati gereja, melewati tikungan, dan berhenti di depan pagar rumah neneknya.

Dari sini, rumah itu terlihat berbeda. Siang tadi ia melihat rumah tua yang butuh dicat. Sekarang ia melihat sesuatu yang sedang menahan napas.

Ia masuk, mengunci pintu, menyalakan semua lampu di lantai bawah. Lalu ia duduk di sofa, mengeluarkan buku catatan dari ransel, dan mulai menulis daftar.

*1. Langkah di lantai bawah, 23.00.*
*2. Taplak berkerut, pagi.*
*3. Ketukan tiga kali, 03.00.*
*4. Bu Tini: aturan tiga. Nenek keluar rumah jam 9 malam terakhir 40 tahun.*
*5. Foto: Harsini dan adiknya, 1961. Nenek nggak pernah cerita punya adik.*
*6. Noah tahu semuanya sebelum aku bilang apa-apa.*

Ia menatap daftar itu. Lalu ia menambahkan satu baris lagi, dengan tulisan lebih kecil, seperti malu pada dirinya sendiri.

*7. Noah punya tangan yang dingin dan mata yang bikin aku lupa apa yang mau aku tulis.*

Ia mencoret baris itu. Lalu menulisnya lagi. Lalu menutup buku dan meletakkannya di bawah bantal, seperti orang menyembunyikan bukti.

Malam itu, ia memutuskan untuk tidak tidur. Ia duduk di lantai kamar dengan punggung menempel tempat tidur, lampu menyala, ponsel di tangan dengan baterai penuh, dan ia menunggu.

Pukul sebelas, langkah itu datang lagi.

Kali ini Azel sudah siap. Ia mendengar dengan mata tertutup, memetakan: dari dapur, tiga langkah, berhenti. Lalu bergeser ke kiri, ke ruang tamu, melewati sofa. Berhenti di depan cermin.

Azel membuka mata. Ia berdiri, pelan, dan menuruni tangga dengan menginjak bagian tepi papan supaya tidak berderit. Ia tidak menyalakan lampu. Ia hanya berdiri di anak tangga terakhir, menatap ruang tamu yang gelap.

Cermin itu memantulkan cahaya bulan dari jendela. Di dalamnya, Azel melihat ruang tamu yang kosong, sofa, meja, dan dirinya sendiri di tangga.

Lalu, di dalam cermin, seseorang berjalan melewati punggungnya.

Azel berbalik secepat ia bisa. Ruang tamu kosong. Tidak ada siapa-siapa. Napasnya keluar pendek-pendek.

Ia menoleh kembali ke cermin. Di dalamnya, kini ada seorang perempuan tua berdiri di dekat meja, memakai kebaya gelap, rambutnya disanggul rapi. Ia tidak menatap Azel. Ia menatap taplak di meja, dan tangannya bergerak, merapikan renda yang berkerut, dengan gerakan yang sangat pelan dan sangat sabar.

Azel tidak bergerak. Ia tidak bisa. Ada sesuatu di dadanya yang berat seperti batu.

Perempuan itu mengangkat kepala. Matanya bertemu mata Azel di dalam cermin, dan Azel mengenali wajah itu dari foto di dinding. Wajah yang sama, hanya lebih tua, lebih lelah, dengan kerutan di sudut mata.

Neneknya membuka mulut, dan Azel mendengar suara itu bukan dari cermin, tapi dari dalam kepalanya sendiri, seperti suara yang diucapkan tepat di belakang telinganya.

*"Jangan buka pintunya, Cucu. Apa pun yang dia bilang."*

Cermin itu bergetar. Gambar di dalamnya pecah seperti riak air, dan tiba-tiba yang ada di sana bukan lagi neneknya, melainkan sesuatu yang tinggi, gelap, dengan bentuk yang terus berubah, dan mata—banyak mata, tersebar di tempat yang seharusnya bukan wajah.

Azel menjatuhkan diri ke lantai, menutup mata, merangkak mundur sampai punggungnya menabrak kaki sofa.

Ketukan itu datang lagi. Tiga kali. Dari pintu depan.

Azel menahan napas. Ketukan keempat tidak datang. Ketukan kelima tidak datang. Hanya tiga, dan kemudian sunyi, dan kemudian—empat ketukan, cepat, tidak teratur, seperti orang yang mengetuk dengan punggung tangan.

"Bukan dia," kata Azel pada dirinya sendiri, dan suaranya pecah di tengah. "Empat. Empat itu Noah."

Ia merangkak ke pintu, mengintip lewat celah tirai.

Noah berdiri di teras, jaketnya basah kabut, wajahnya tegang. Ia mengangkat tangan, menunjukkan empat jari, lalu menunjuk ke belakangnya, ke arah jalan.

Azel membuka pintu.

"Kamu bodoh ya," kata Noah, langsung, tanpa halo. "Aku bilang jangan buka kalau tiga kali. Kamu buka pintu jam sebelas malam tanpa nanya siapa."

"Itu kamu yang ngetuk empat kali."

"Ya. Empat kali. Aku." Noah mendorong masuk, menutup pintu di belakangnya, dan mengunci sendiri. Ia menatap ruang tamu, lalu cermin, dan wajahnya berubah—bukan takut, tapi marah. "Kamu ngeliat sesuatu di cermin itu?"

Azel mengangguk.

"Noah." Noah melepas jaketnya, melempar ke sofa, dan berjalan ke cermin. Ia berdiri di depannya, mengangkat tangan kanan, dan meletakkan telapak tangannya di permukaan kaca.

Cermin itu berembun. Bukan dari luar, dari dalam, seperti ada napas di baliknya.

"Jangan pernah lakuin itu lagi," kata Noah, pelan, tanpa menoleh. "Ngeliatin cermin ini habis jam dua belas. Kamu nggak tahu apa yang bisa keluar."

"Aku nggak sengaja. Aku denger langkah—"

"Ya, karena dia tahu kamu dengerin. Dia main." Noah menarik tangannya. Embun di cermin mengering dalam satu tarikan napas, seperti dihapus kain yang tidak kelihatan. "Dia suka main. Dia nunggu kamu salah satu langkah, terus dia punya alasan."

"Alasan untuk apa?"

Noah akhirnya menoleh. Di bawah lampu ruang tamu, wajahnya terlihat lebih muda dari yang Azel kira—dan lebih lelah. Ada lingkaran gelap di bawah matanya yang tidak mungkin dibuat oleh satu malam kurang tidur.

"Untuk masuk," katanya. "Sekarang kamu udah ngeliat dia, dan dia udah ngeliat kamu. Itu udah cukup buat dia mulai."

Azel menelan. "Mulai apa?"

Noah tidak menjawab. Ia mengambil jaketnya, mengibaskannya, lalu berjalan ke pintu. Sebelum membuka, ia berhenti, dan untuk pertama kalinya sejak masuk, suaranya melunak.

"Kamu punya kopi?"

"Ada. Di dapur. Nenekku... ada."

"Noah." Noah melepas sepatunya. "Bikin dua. Aku nggak bisa pulang sekarang, kabut tebal. Nanti aku jelasin apa yang bisa aku jelasin."

Mereka duduk di dapur sampai jam satu pagi.

Noah duduk di kursi kayu, dengan kaki terentang, dan Azel duduk di lantai karena kursinya cuma dua. Dari posisi itu Azel bisa melihat hal-hal kecil: bahwa Noah memegang gelas dengan kedua tangan, bahwa ia meniup kopinya tiga kali sebelum meminumnya, bahwa ia menggulung lengan jaketnya sampai siku dan di lengan kirinya ada bekas luka panjang yang sudah lama.

"Noah, itu dari mana?" tanya Azel, menunjuk.

Noah menurunkan lengan. "Dari waktu aku umur lima belas."

"Kamu bilang kamu pernah masuk."

"Noah." Noah menatap gelasnya. "Aku masuk lewat cermin itu. Aku nyangkut di dalam tiga jam. Di luar cuma tiga jam, tapi di dalam rasanya kayak tiga hari." Ia menyeruput. "Aku keluar karena ada yang nolongin aku. Aku nggak tahu siapa. Aku cuma inget tangan yang narik aku, dan suara yang nyuruh aku lari."

"Kamu nggak pernah cerita ini ke siapa-siapa?"

"Noah." Noah mengangkat kepala, dan tatapannya bertemu tatapan Azel. "Ke siapa? Bapak aku? Dia nggak bisa lihat apa-apa. Bu Tini? Dia bakal matiin lampu rumah aku." Ia tertawa, pendek. "Aku cerita ke kamu karena kamu nanya. Dan karena kamu udah lihat cermin itu."

Azel menatapnya lama. Lalu ia bilang sesuatu yang sudah ia tahan sejak siang.

"Aku seneng kamu dateng."

Noah berhenti mengangkat gelas.

"Maksud aku," kata Azel cepat, "aku seneng ada orang yang... ngerti. Aku baru dua hari di sini, dan aku udah kayak orang gila ngomong sendiri di rumah kosong. Terus kamu dateng, dan kamu nggak bikin aku ngerasa gila."

Noah tidak langsung menjawab. Ia meletakkan gelasnya, dan Azel melihat telinganya memerah—hanya di ujung, hanya sedikit, tapi cukup terlihat di bawah lampu dapur yang kuning.

"Aku juga," katanya akhirnya, pelan. "Seneng."

Mereka tidak bicara beberapa detik. Di luar, angin menggeser sesuatu di teras, dan Azel mendengar atap berderit, dan untuk pertama kalinya suara-suara itu tidak membuatnya takut.

"Noah," kata Azel. "Tadi kamu bilang kamu nggak bisa pulang. Kabut tebal."

"Noah."

"Kabutnya tebal, atau kamu nggak mau pulang?"

Noah menatapnya, dan di bawah lampu itu, dengan kopi setengah habis dan jaket yang terlipat di pangkuan, ia terlihat seperti anak tujuh belas tahun yang baru pertama kali ketahuan berbohong.

"Dua-duanya," katanya.

Azel berdiri, mengambil selimut dari sofa, dan meletakkannya di lantai dapur. "Tidur di sini. Sofa ruang tamu menghadap cermin, aku nggak mau kamu tidur di situ."

"Noah." Noah menatap selimut itu. "Kamu nggak keberatan?"

"Aku baru bilang aku seneng kamu dateng." Azel berjalan ke pintu dapur, lalu berhenti, dan menoleh. "Dan Noah—"

"Noah?"

"Kalau nanti ada yang ngetuk tiga kali lagi, kamu bangunin aku. Aku mau belajar."

Noah tersenyum. Senyum pertama yang Azel lihat darinya, dan itu senyum yang aneh—miring, sedikit ragu, seperti orang yang sudah lama tidak melakukannya.

"Besok aku ke sini lagi," katanya. "Bawa sesuatu. Kamu harus tahu apa yang kamu warisi."

Azel naik ke kamar, dan berbaring, dan mendengarkan. Untuk pertama kalinya sejak ia masuk rumah itu, lantai bawah tidak sunyi—ada suara orang membalik badan di lantai dapur, ada suara napas yang tidak teratur, ada suara hidup.

Dan seluruh malam, tidak ada langkah sama sekali.