Bab 2
Yang Tidak Pernah Keluar
Tiga minggu berlalu, dan Alya belajar ritme kos itu seperti orang belajar nada sebuah lagu. Pukul enam pagi, Bu Ratna menyapu halaman. Pukul tujuh, penghuni kamar tiga berangkat kerja dengan sepeda motor yang knalpotnya selalu batuk dua kali. Pukul sebelas malam, lampu lorong tetap menyala.
Yang tidak pernah masuk dalam ritme itu adalah kamar nomor tujuh.
Pintunya persis di seberang kamar Alya, dan sejak hari pertama Alya belum pernah melihatnya terbuka. Tidak ada suara televisi, tidak ada suara air, tidak ada bau makanan. Yang ada hanya sepiring nasi yang setiap pagi diletakkan Bu Ratna di depan pintu itu, dan setiap pagi pula piringnya kembali kosong.
"Penghuninya sakit?" tanya Alya suatu hari, saat membantu Bu Ratna menjemur keset.
Bu Ratna tidak langsung menjawab. Ia membalik keset dengan hati-hati, menepuknya dua kali, lalu berkata, "Dia sudah lama di sini. Lebih lama dari kamu. Lebih lama dari Sari."
"Tapi tidak pernah keluar?"
"Keluar," kata Bu Ratna. "Setiap malam. Jam dua belas lewat sedikit. Kamu tidak dengar karena dia jalannya pelan."
Alya ingin tertawa, tapi tawa itu tidak keluar. Malam itu ia tidur dengan lampu menyala dan terbangun tepat pukul dua belas lewat tujuh menit, karena mendengar sesuatu yang sangat pelan di lorong: bunyi langkah, satu per satu, seperti orang berjalan sambil menghitung.
Ia menempelkan telinga ke pintu. Langkah itu berhenti. Tidak di depan kamar tujuh. Di depan kamarnya.
Alya menahan napas selama yang bisa ia tahan, lalu membuka pintu dengan gerakan cepat, siap menjelaskan apa pun. Lorong itu kosong. Lampu di ujung menyala rata seperti biasa. Dan di lantai, tepat di depan pintunya, ada sebutir beras.
Esok paginya, piring di depan kamar tujuh masih penuh.