Bab 3
Pembaca Ambang
Noah datang pukul sembilan pagi, membawa dua hal: sekotak kue basah dari Bu Tini dan sebuah buku tulis bersampul kain yang sudah menguning di tepinya.
Ia meletakkan keduanya di meja ruang tamu, lalu menatap cermin sebentar—hanya sebentar, seperti orang memeriksa apakah pintu yang seharusnya tertutup masih tertutup—dan duduk.
"Sebelum aku jelasin apa pun," katanya, "aku mau kamu tahu satu hal dulu. Kalau setelah ini kamu mau pulang ke kota, aku nggak akan cegah. Aku malah sarankan."
Azel menuangkan teh. "Aku nggak punya tempat lain."
"Noah." Noah membuka kotak kue. "Itu bukan jawaban yang bikin aku tenang."
"Aku serius. Ibu aku meninggal dua tahun lalu. Ayahku... nggak ada. Kontrakannya sudah habis bulan lalu, dan satu-satunya aset yang aku punya adalah rumah ini." Azel duduk di seberang. "Jadi kalau kamu mau aku pergi, kamu harus kasih aku alamat lain."
Noah menatapnya lama, lalu mengangguk pelan, seperti menyimpan sesuatu. "Oke. Tapi kalau aku bilang lari, kamu lari. Nggak nanya."
"Deal."
Noah membuka buku tulis itu. Halaman pertama penuh tulisan tangan yang kecil dan rapat, dengan garis-garis yang dibuat penggaris. Beberapa halaman ada gambar: lingkaran, garis, panah, simbol yang tidak Azel kenali.
"Ini punya siapa?" tanya Azel.
"Punyaku. Aku tulis dari umur dua belas." Noah membalik beberapa halaman. "Aku bisa lihat mereka sejak aku kecil. Awalnya aku pikir semua orang bisa. Ibuku bilang aku cuma punya teman khayalan, terus aku umur tujuh, aku nunjuk salah satu dari mereka di depan tetangga, dan aku baru ngerti kenapa ibuku nangis malam itu."
"Karena apa?"
"Karena yang aku tunjuk itu anak tetangga yang sudah mati lima tahun sebelumnya." Noah mengangkat bahu, seperti membaca kalimat dari buku pelajaran. "Sejak itu aku belajar diem. Tapi mereka tetap datang. Mereka tahu aku bisa lihat, jadi mereka... ngerubung."
Azel meletakkan gelasnya. "Ngerubung gimana?"
"Kayak orang ngantre." Noah menatap jendela. "Kebanyakan cuma mau ditanya apa yang mereka butuh. Ada yang nyasar, ada yang nyangkut, ada yang nggak sadar sudah mati. Kalau aku bantu, mereka pergi. Kalau aku nggak bisa, mereka nunggu. Kadang lama."
"Kamu bantu gimana?"
"Noah." Noah mengetuk buku tulisnya. "Aku dengerin. Kadang cuma itu yang mereka butuh. Ada yang nunggu anaknya pulang, ada yang nyesel, ada yang cuma pengen ada yang inget nama mereka. Aku hafal semua nama yang pernah aku temuin. Tujuh puluh tiga nama." Ia berhenti. "Aku hafal semuanya, karena kalau aku lupa, mereka balik lagi."
Azel menatapnya, dan merasakan sesuatu yang tidak nyaman di dadanya. "Kamu umur tujuh belas."
"Noah."
"Kamu umur tujuh belas, dan kamu hafal tujuh puluh tiga nama orang mati, dan kamu nggak pernah cerita ke siapa-siapa."
Noah tidak menjawab. Ia hanya membalik halaman buku tulisnya, dan Azel melihat, di halaman itu, sebuah daftar nama yang ditulis rapat dalam kolom, dengan tanggal di sebelahnya.
"Dan yang di rumah ini? Dia mau apa?"
Noah berhenti membalik. Ia menatap Azel, dan ada sesuatu di matanya yang Azel belum pernah lihat: ragu, bukan karena tidak tahu, tapi karena tahu terlalu banyak.
"Dia bukan yang nyasar," kata Noah. "Dia yang jaga."
"Jaga apa?"
"Ambang." Noah menulis kata itu di udara dengan jarinya. "Ada tempat-tempat di dunia ini yang lebih tipis dari yang lain. Kayak kain yang sudah lama dipakai. Di tempat tipis itu, yang di sana bisa nyium yang di sini, dan sebaliknya. Sukamaju itu salah satunya. Rumah ini dibangun tepat di atas yang paling tipis."
Azel mengerutkan dahi. "Nenekku tahu ini?"
"Nenekmu penjaganya." Noah menatapnya. "Empat puluh tahun. Sejak suaminya meninggal—kakekmu—dia jaga ambang ini. Nggak keluar malam, nggak buka pintu kalau ada yang ngetuk tiga kali, nggak ngomong nama di depan cermin. Semua itu bukan takhayul. Itu prosedur."
Azel duduk diam cukup lama. Di luar, kabut bergerak pelan di depan jendela, seperti sesuatu yang sedang berjalan mondar-mandir.
"Kalau nenekku penjaga," katanya akhirnya, "dan dia sudah meninggal sebelas tahun lalu, siapa yang jaga selama sebelas tahun ini?"
Noah tidak menjawab. Ia hanya menatap Azel, dan tatapan itu adalah jawaban.
"Jangan," kata Azel, pelan. "Jangan bilang itu aku."
"Kamu cucunya. Kamu yang punya tanda."
"Tanda apa? Aku nggak punya tanda apa-apa."
Noah bangkit, berjalan mengelilingi meja, dan berhenti di samping Azel. Ia mengulurkan tangan, ragu-ragu, lalu menyentuh bagian belakang leher Azel dengan dua jari—tepat di bawah tengkuk, di tempat Azel merasakan dingin setiap kali ada sesuatu yang tidak benar.
"Di sini," kata Noah. "Ada sejak kamu lahir. Kamu nggak bisa lihat karena posisinya di belakang, tapi kalau kamu pegang, bentuknya kayak..."
"Kayak apa?"
"Kayak garis. Tiga garis, nyambung." Noah menarik tangannya cepat, seperti tersadar. "Aku lihat itu pertama kali waktu kamu turun dari bus."
Azel mengangkat tangan ke tengkuknya, meraba. Kulitnya hangat dan biasa saja. Tapi kemudian jarinya menemukan sesuatu: tiga garis tipis yang menonjol sangat sedikit, seperti bekas luka yang sudah lama sembuh, membentuk sesuatu seperti huruf.
"Aku nggak pernah lihat ini." Suaranya naik. "Seumur hidup, aku nggak pernah—"
"Karena nggak ada yang pernah nyuruh kamu ngeraba tengkuk sendiri." Noah kembali ke kursinya. "Itu tanda penjaga. Nenekmu punya. Adiknya punya."
Azel mengangkat kepala. "Adiknya? Nenekku punya adik?"
Noah berhenti. Wajahnya berubah. "Kamu belum tahu?"
"Aku baru tahu ada foto di dinding itu kemarin. Nenekku nggak pernah cerita apa pun soal keluarganya. Ibuku juga nggak."
Noah menutup buku tulisnya. Ia memutar gelasnya di meja, sekali, dua kali, dan ketika ia bicara, suaranya lebih pelan dari sebelumnya.
"Namanya Harjo. Adik Harsini. Umur tujuh belas waktu itu." Ia menatap Azel. "Dia penjaga sebelum Harsini. Dan dia... hilang."
"Hilang gimana?"
"Keluar malam, nggak balik." Noah menatap cermin di dinding. "Tahun 1961. Bulan yang sama, tanggal yang sama dengan semua yang hilang di kampung ini. Tanggal dua puluh tujuh."
Azel mengikuti pandangannya ke cermin. Cermin itu sekarang terlihat biasa—kaca tua yang memantulkan ruang tamu, sofa, meja, dua anak laki-laki yang duduk berhadapan.
"Dua puluh tujuh apa?"
"Noah." Noah bangkit. "Aku mau nunjukin sesuatu. Kamu harus lihat sendiri, karena kalau aku cuma cerita, kamu bakal pikir aku gila."
Ia membawa Azel keluar, melewati pagar, menyusuri jalan setapak di belakang gereja yang Azel belum pernah lewati. Jalan itu menanjak, ditutupi akar dan lumut, dan berakhir di tanah lapang kecil dengan rumput yang tumbuh tinggi.
Di tengah lapang itu ada batu-batu nisan. Bukan nisan besar dari granit seperti di kota; ini batu kali yang ditanam tegak, dengan nama yang dipahat kasar dan tanggal yang sudah hampir hilang dimakan lumut.
Azel menghitung. Tujuh belas.
"Semua ini orang kampung?" tanyanya.
"Semua yang hilang." Noah berjalan di antara batu-batu itu. "Dari tahun empat puluhan sampai sekarang. Namanya beda-beda, umurnya beda-beda, tapi tanggalnya sama semua."
Ia berhenti di depan batu yang paling kecil, di ujung barisan.
Azel mendekat. Pahatan di batu itu masih terbaca, meski tipis: *HARJO. 1944–1961.*
"Tujuh belas tahun," kata Azel, pelan.
"Tujuh belas tahun." Noah tidak menatapnya. "Sama kayak aku sekarang."
Angin turun dari bukit, membawa kabut yang lebih dingin dari sebelumnya. Azel merasakan tengkuknya meremang, dan kali ini ia tahu itu bukan karena udara.
"Kamu bawa aku ke sini buat lihat kuburan," katanya. "Kenapa?"
"Karena yang kamu warisi bukan rumah." Noah akhirnya menoleh. "Yang kamu warisi itu tugas yang sudah makan satu keluarga, dan kamu punya tanda di leher, dan bulan ini tanggal dua puluh tujuh jatuh sepuluh hari lagi."
Azel menatap batu-batu itu lagi. Tujuh belas nama. Tujuh belas orang yang keluar malam dan tidak kembali.
"Aku nggak bisa jadi penjaga," katanya. "Aku nggak bisa lihat mereka. Aku bahkan nggak percaya hantu sampai dua hari lalu."
"Kamu lihat nenekmu di cermin semalam."
"Itu—" Azel berhenti. Ia tidak punya bantahan.
Noah melangkah lebih dekat. Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, ia berdiri cukup dekat sehingga Azel bisa melihat detail kecil di wajahnya: bekas luka tipis di pelipis kiri, bulu mata yang lebih panjang di satu sisi, napas yang keluar sedikit lebih cepat dari seharusnya.
"Aku bisa lihat mereka," kata Noah, pelan. "Kamu bisa nahan mereka. Itu bedanya."
"Bisa nahan gimana?"
"Aku nggak tahu." Noah mengangkat bahu, dan senyumnya miring, dan untuk sesaat ia terlihat seperti anak tujuh belas tahun biasa, bukan orang yang sudah bicara dengan orang mati sepanjang hidupnya. "Itu yang mau kita cari tahu. Sebelum tanggal dua puluh tujuh."
Mereka turun dari bukit dalam diam. Di tengah jalan, Azel menyadari sesuatu dan berhenti.
"Noah."
"Noah?"
"Kenapa kamu bantuin aku?" Azel menatapnya. "Kamu bisa aja diem. Kamu bisa pura-pura nggak lihat tanda aku. Kamu nggak wajib ngurusin orang baru yang nggak kamu kenal."
Noah berdiri dengan tangan di kantong, menatap jalan setapak, dan Azel melihat telinganya memerah—hanya sedikit, hanya di ujung, tapi cukup terlihat di udara dingin.
"Karena aku sudah lihat tujuh belas nama di bukit itu," kata Noah. "Dan aku nggak mau lihat yang kedelapan belas."
Ia berjalan lebih dulu, dan Azel mengikutinya, dan tidak ada dari mereka yang bicara sampai pagar rumah kembali terlihat.
Tapi sebelum Azel membuka pagar, Noah berkata, tanpa menoleh:
"Dan karena aku nggak pernah punya siapa-siapa yang bisa diajak ngomong soal ini tanpa aku kelihatan gila."
Azel berhenti. "Noah—"
"Jangan jawab apa-apa." Noah mendorong pagar, dan besinya berderit seperti biasa. "Aku cuma mau kamu tahu. Itu aja."
Malam itu, Azel tidak bisa tidur, tapi bukan karena takut.
Ia berbaring di tempat tidur, menatap langit-langit, dan memikirkan tangan yang dingin, dan telinga yang memerah, dan kalimat *aku nggak pernah punya siapa-siapa*, dan ia merasakan sesuatu yang sangat sederhana dan sangat berbahaya: bahwa ia ingin jadi orang yang pertama.
Pukul dua belas, ia mendengar langkah di lantai bawah. Ia tidak turun. Ia hanya menutup mata, dan berkata, pelan, ke arah langit-langit:
"Dia temanku. Jangan ganggu dia."
Dan langkah itu, untuk pertama kalinya, berhenti lebih cepat dari biasanya—seperti sesuatu di bawah sana mengangguk, lalu pergi.