โ† Lampu di Ujung Lorong

Bab 3

Hitungan yang Tidak Cocok

Sari menolak masuk ke kamar Alya. Ia berdiri di lorong, punggung menempel dinding, dan berbicara dengan suara yang dibuat tetap datar.

"Berapa kali?"

"Tiga malam," kata Alya. "Selalu jam dua belas lewat tujuh menit. Langkahnya berhenti di depan pintuku, dan paginya ada sebutir beras."

Sari menutup mata. "Kamu menghitung pintunya?"

"Kamu yang bilang jangan menyalakan lampu. Aku cuma ingin tahu kenapa."

"Karena lampu itu bukan untuk kita," kata Sari. "Lampu itu untuk menghitung. Setiap malam dia keluar, berjalan dari ujung ke ujung, dan menghitung pintu. Kalau hitungannya genap, dia pulang. Kalau ganjilโ€”"

Ia berhenti.

"Kalau ganjil?"

"Kamar terakhir yang dia hitung ikut dihitung," kata Sari. "Dulu ada sembilan kamar. Sekarang delapan. Kamu tinggal di nomor delapan, Alya."

Malam itu Alya tidak tidur. Ia duduk di lantai dengan punggung menempel pintu, membawa senter kecil dan selembar kertas, dan ia menulis angka satu sampai dua belas dengan tangan yang tidak sepenuhnya stabil.

Pukul dua belas lewat tujuh menit, langkah itu datang lagi. Alya menghitung bersama suara itu, pelan-pelan, mengikuti iramanya. Satu, dua, tiga โ€” setiap angka jatuh di depan sebuah pintu. Ketika sampai di sebelas, langkah itu berhenti tepat di seberang, di depan kamar tujuh.

Lalu, sangat pelan, ada ketukan kedua belas di pintu kamarnya sendiri.

Alya melihat kertas di tangannya. Ia sudah menulis dua belas angka. Ia menatap lampu di ujung lorong โ€” dan untuk pertama kalinya sejak ia pindah, lampu itu berkedip.

Sekali. Dua kali. Padam.

Dalam gelap, Alya mendengar seseorang di seberang pintu menarik napas panjang, seperti orang yang baru selesai bekerja. Lalu suara itu berkata, sangat jelas, dalam bahasa Indonesia yang terlalu rapi untuk sebuah mimpi:

"Kamar nomor sembilan. Besok."

Ini bab terakhir yang tersedia. Terima kasih sudah membaca.