Bab 4
Sumur Tua
Tiga hari berikutnya, Azel belajar hidup dengan aturan.
Ia belajar pulang sebelum magrib, meski artinya harus menolak ajakan Bu Tini mengobrol sampai malam. Ia belajar menutup semua cermin di rumah dengan kain—kecuali yang besar di ruang tamu, karena Noah bilang cermin itu tidak boleh ditutup, justru harus dibiarkan terlihat, supaya "dia" tidak punya alasan untuk mencari jalan lain.
Ia belajar bahwa rumah itu punya suara-suara yang bukan langkah: kayu yang mengembang, atap yang mengetuk sendiri saat angin berbalik, dan sesuatu di dapur yang berbunyi seperti sendok diletakkan terlalu keras di meja, padahal tidak ada siapa-siapa.
Dan ia belajar bahwa Noah datang hampir setiap hari, dengan alasan yang berbeda-beda dan tidak pernah meyakinkan.
Hari pertama Noah datang membawa senter dan bilang mau memeriksa kabel listrik. Hari kedua ia datang membawa dua bungkus mi instan dan bilang rumah Azel lebih hangat dari rumahnya. Hari ketiga ia datang tanpa alasan sama sekali, duduk di teras, dan bertanya apakah Azel sudah makan.
"Noah," kata Azel, hari keempat, saat Noah sedang memeriksa kusen jendela yang katanya "miring". "Kamu nggak punya kerjaan lain?"
"Aku bantu bapak di bengkel kalau sore." Noah mengetuk kusen dengan buku jarinya. "Pagi kosong."
"Kamu nggak sekolah?"
"Noah." Noah menoleh, dan ada sesuatu di wajahnya yang membuat Azel menyesal bertanya. "Aku berhenti kelas sebelas. Tahun lalu."
"Kenapa?"
Noah kembali ke kusennya. "Karena aku nggak bisa duduk di kelas tanpa ngeliat ada orang berdiri di belakang guru yang udah mati tiga tahun lalu. Aku pernah teriak di kelas. Anak-anak pikir aku gila. Mungkin aku memang gila."
Azel tidak bilang apa-apa. Ia hanya mengambil obeng dari kotak dan menyerahkannya, dan Noah menerimanya dengan anggukan kecil yang artinya lebih dari terima kasih.
Sore itu, Noah mengajak Azel ke pasar.
Pasar Sukamaju hanya buka sampai pukul lima, dan sebagian besar pedagang sudah menutup tenda ketika mereka tiba. Yang tersisa hanya beberapa yang menjual sayur sisa dan satu penjual ikan yang sedang mencuci embernya.
"Sumur itu di belakang," kata Noah, menunjuk ke ujung pasar. "Aku mau kamu lihat, siang-siang, waktu masih aman. Supaya kamu tahu bentuknya, jadi kalau nanti kamu nggak sengaja lewat, kamu tahu harus ngapain."
"Harus ngapain?"
"Noah." Noah menatapnya. "Jangan berhenti. Jangan jawab kalau ada yang manggil. Jangan lihat ke dalam."
Mereka berjalan melewati tenda-tenda yang sudah kosong, melewati tumpukan kardus, dan berhenti di belakang pasar, di tempat yang tertutup dinding beton rendah dan pohon beringin tua yang akarnya menjalar sampai ke tanah.
Sumur itu ada di tengah.
Bukan sumur seperti yang Azel bayangkan. Ia bulat, bergaris tengah sekitar satu setengah meter, dengan dinding bata merah yang sebagian sudah runtuh. Di atasnya ada penutup beton yang berat, ditutup rapat, dan di penutup itu ada rantai yang dililitkan tiga kali dan dikunci dengan gembok yang sudah berkarat.
"Ditutup tahun tujuh puluhan," kata Noah. "Sama orang-orang tua. Mereka bilang, setelah itu suara dari dalam berhenti."
"Berhenti?"
"Selama sepuluh tahun." Noah memasukkan tangan ke kantong. "Terus tahun delapan puluh sembilan, ada anak yang main di sini, dan dia buka gemboknya. Dia nggak hilang. Dia cuma... nggak bisa ngomong lagi sampai sekarang. Sekarang dia umur empat puluh lima, duduk di depan rumahnya tiap sore, dan kalau ada yang lewat dia nunjuk ke arah sumur."
Azel menatap gembok itu. Karatnya tebal, tapi rantainya masih utuh, dan sesuatu di dalam dirinya mencatat detail yang tidak berguna: bahwa gembok itu masih terpasang, bahwa tidak ada yang membukanya sejak lama.
"Kamu pernah lihat dari dekat?" tanya Azel.
"Aku pernah denger." Noah menatap sumur dengan ekspresi yang Azel mulai kenali: bukan takut, tapi waspada, seperti orang yang sudah lama tinggal di dekat binatang buas dan tahu persis jarak amannya. "Waktu aku umur tiga belas. Aku lewat sini habis magrib, karena aku bodoh. Ada yang manggil nama aku dari dalam. Suara perempuan. Persis kayak suara ibuku."
"Terus?"
"Noah." Noah tersenyum tipis, tanpa humor. "Aku lari sampai kaki aku lecet. Sejak itu aku nggak pernah lewat sini lagi setelah gelap."
Angin bertiup dari arah beringin, dan dedaunan bergerak semua sekaligus, seperti ada yang menariknya dari satu titik. Azel merasakan dingin menjalar dari tengkuknya ke punggung.
"Aku denger sesuatu," katanya, pelan.
Noah menoleh cepat. "Apa?"
"Kayak..." Azel menutup mata, mencoba mendengar lebih jelas. "Kayak air. Tapi bukan air yang jatuh. Kayak air yang... diputar. Diaduk."
Wajah Noah berubah. Ia melangkah, mengambil lengan Azel, dan menariknya mundur tiga langkah dari sumur.
"Kamu denger itu dari mana?"
"Dari dalam." Azel membuka mata, dan menyadari sesuatu yang membuat darahnya dingin: Noah tidak mendengar apa pun. Wajah Noah hanya menunjukkan kewaspadaan, bukan pengenalan.
"Noah, aku denger suara air dari dalam sumur yang ditutup beton."
"Aku tahu." Noah melepaskan lengannya, tapi tidak menjauh. "Itu tandanya kamu bukan cuma bisa nahan. Kamu bisa denger."
"Aku nggak mau bisa denger."
"Terlambat." Noah mengangkat dagunya ke arah sumur. "Dia udah tahu kamu denger. Sekarang dia bakal nyoba ngomong."
Dan seperti dipanggil, suara itu datang.
Bukan dari sumur. Dari belakang mereka.
"Azel."
Azel berbalik. Di ujung pasar yang kosong, berdiri seorang perempuan dalam seragam sekolah, rambut dikuncir dua, wajahnya bulat dan ramah. Ia melambai. "Azel, sini. Aku udah nunggu dari tadi."
Azel merasakan seluruh tubuhnya menolak. Bukan karena ia mengenali perempuan itu—ia tidak—tapi karena suaranya. Suara itu adalah suara ibunya. Persis. Nada, jeda, cara mengucapkan namanya dengan tekanan di suku kata kedua.
"Noah," bisik Azel, dan suaranya nyaris tidak keluar. "Itu bukan ibuku."
"Noah." Noah sudah berdiri di sampingnya, dan tangannya menggenggam tangan Azel, kuat, dingin, dan nyata. "Jangan jawab. Jangan lihat matanya. Lihat kaki aku, jalan."
"Azel, kamu kenapa? Kamu nggak dengerin Mama?"
Mereka berjalan. Azel menatap tumit sepatu Noah, satu langkah, dua langkah, dan suara itu mengikuti, dan setiap kali ia mengucapkan nama Azel, sesuatu di dada Azel tertarik seperti kail.
"Azel, kamu ninggalin Mama lagi?"
Air mata menggenang di mata Azel tanpa izin. Ia bukan orang yang mudah menangis. Tapi suara itu tahu persis bagian mana yang harus ditekan, dan ia menekannya dengan presisi yang kejam.
"Noah." Noah meremas tangannya. "Dua langkah lagi. Jangan berhenti."
Mereka melewati tikungan, dan suara itu berhenti seperti radio yang dicabut.
Azel jatuh berlutut di jalan, dan Noah ikut berlutut di sampingnya, dan untuk beberapa saat tidak ada yang bicara selain napas Azel yang kasar dan tidak teratur.
"Kamu aman," kata Noah, akhirnya. "Dia nggak bisa keluar dari area pasar. Belum."
"Belum?"
"Belum." Noah tidak berbohong, dan Azel menghargai itu meski kebenarannya menyakitkan. "Dia bisa ngomong, dia bisa bikin kamu lihat, tapi dia belum bisa nyentuh. Kalau dia bisa nyentuh, kita udah bukan dua orang yang ngobrol di jalan sekarang."
Azel mengusap wajahnya dengan lengan baju. "Kenapa suaranya kayak suara ibuku?"
"Karena dia baca." Noah duduk di aspal, tidak peduli celananya kotor. "Dia nggak tahu isi kepalamu. Dia cuma bisa baca yang paling dekat di permukaan. Yang paling kamu takutin. Yang paling kamu rindukan." Ia menatap Azel. "Untuk kamu, itu ibumu. Untuk aku, dulu, itu ibuku juga. Untuk Harjo—" ia berhenti. "Aku nggak tahu apa yang dia dengar. Tapi aku bisa nebak, karena dia nggak punya siapa-siapa selain kakaknya."
Azel menatapnya. "Nenekku."
"Noah." Noah mengangguk. "Kalau suara itu muncul sebagai Harsini, dan Harjo masih tujuh belas, dan dia sendirian di rumah ini..." Ia tidak melanjutkan.
Mereka duduk di jalan sampai langit berwarna jingga, dan ketika Azel akhirnya berdiri, kakinya gemetar tapi ia bisa berjalan.
"Noah," katanya, di tengah jalan. "Tadi kamu pegang tangan aku."
"Noah." Noah tidak menoleh. "Iya."
"Kenapa?"
Noah berhenti. Ia menatap jalan, lalu menatap tangan kanannya sendiri, seperti orang yang baru sadar apa yang baru saja ia lakukan.
"Karena kamu hampir jawab," katanya. "Dan aku nggak mau kehilangan orang yang baru aku kenal lima hari."
"Jadi cuma karena itu?"
Noah menatapnya, dan di bawah langit jingga, matanya yang berwarna madu itu terlihat lebih terang dari seharusnya.
"Noah." Ia memasukkan tangannya ke kantong. "Jangan nanya gitu kalau kamu nggak siap denger jawabannya."
Azel tidak bertanya lagi. Tapi sepanjang jalan pulang, ia merasakan tangan itu—dingin, kuat, menggenggam terlalu erat—dan ia tahu ia akan mengingatnya lebih lama dari yang wajar.
Malam itu, Noah tidur di sofa ruang tamu. Azel menawarkan kamar, Noah menolak, dan Azel tidak memaksa karena ia tahu alasannya: sofa itu menghadap cermin, dan Noah ingin bisa melihat kalau ada sesuatu yang keluar dari sana.
Sebelum tidur, Azel duduk di lantai di samping sofa, dengan selimut di bahu, dan menatap wajah Noah yang berpura-pura tidur.
"Noah."
"Noah." Noah membuka satu mata.
"Aku nggak bisa tidur kalau kamu di ruang tamu sendirian."
Noah menatapnya beberapa detik. Lalu ia menggeser badan, memberi ruang di sofa, dan mengangkat selimutnya sedikit.
"Aku nggak ngajak apa-apa," katanya, cepat, dan telinganya memerah lagi. "Cuma... kalau kamu mau duduk di sini sampai kamu ngantuk."
Azel duduk. Sofa itu sempit, dan bahu mereka bersentuhan, dan Azel bisa merasakan dingin tubuh Noah meresap lewat kemejanya, dan anehnya itu tidak membuatnya kedinginan.
"Kamu dingin," katanya.
"Aku selalu dingin." Noah menatap langit-langit. "Sejak kecil. Kata ibuku, aku lahir pas gerhana."
"Gerhana?"
"Noah." Noah mengangkat bahu. "Bulan ketutup. Kata orang-orang tua di sini, anak yang lahir pas gerhana itu lahir di antara dua tempat." Ia menoleh. "Makanya aku bisa lihat mereka."
Azel menatapnya. "Itu kenapa kamu selalu pakai jaket?"
"Noah." Noah tertawa kecil. "Itu kenapa aku selalu pakai jaket."
Mereka duduk di sana sampai lampu ruang tamu terasa terlalu terang, dan kemudian Noah mematikan lampu itu dengan remote, dan ruangan jadi gelap kecuali cahaya bulan, dan Azel tidak beranjak.
"Noah," kata Azel, dalam gelap.
"Noah?"
"Kalau nanti tanggal dua puluh tujuh, dan ada yang harus masuk ke tempat itu... jangan kamu."
Noah tidak menjawab lama. Ketika ia menjawab, suaranya sangat pelan.
"Aku nggak bisa janji itu."
"Kenapa?"
"Karena aku udah pernah masuk," kata Noah. "Dan aku tahu jalan keluarnya."
Azel menoleh, dan di dalam gelap ia bisa melihat profil Noah—hidung yang lurus, rahang yang tegang, dan mata yang menatap langit-langit seperti orang yang sedang menghitung.
"Noah," katanya. "Kalau kamu masuk, aku ikut."
Noah menoleh cepat. "Jangan bilang gitu."
"Aku serius."
"Justru karena kamu serius." Noah bangkit dari sofa, dan berjalan ke jendela, dan berdiri di sana dengan punggung menghadap Azel. "Kalau kamu ikut, aku harus jaga kamu, dan aku nggak bisa jaga dua orang sekaligus. Itu cara orang mati, Azel. Itu cara Harjo mati."
Azel tidak menjawab. Ia hanya duduk di sofa, menatap punggung itu, dan merasakan sesuatu yang dingin dan berat di dadanya.
Dan di luar jendela, kabut menempel di kaca seperti telapak tangan yang menempelkan diri, dan untuk pertama kalinya Azel menyadari bahwa kabut itu tidak menempel di semua jendela—hanya di jendela yang menghadap ke arah bukit.