← Ambang

Bab 5

Malam Kedua Puluh Tujuh

Tanggal dua puluh tujuh jatuh pada hari Kamis.

Azel tahu itu karena seluruh kampung tahu. Ia melihatnya di pasar: Bu Tini menutup warung lebih awal, penjual ikan tidak berjualan sama sekali, dan gereja membuka pintunya sejak pagi meski tidak ada jadwal ibadah. Orang-orang berjalan cepat, berbicara pelan, dan tidak ada satu pun anak kecil yang bermain di jalan setelah pukul empat.

"Semua orang takut," kata Azel, sore itu, di teras rumah, sambil mengupas kentang yang dibeli Noah.

"Noah." Noah sedang memeriksa lampu teras dengan obeng. "Bukan takut. Waspada."

"Bedanya?"

"Kalau takut, kamu lari." Noah memasang kembali penutup lampu. "Kalau waspada, kamu siap. Kampung ini sudah dua puluh tujuh kali lewat malam ini dalam delapan puluh tahun. Mereka tahu caranya: tutup pintu, jangan keluar, jangan nyalain lampu terang-terang, jangan jawab kalau ada yang manggil."

Azel meletakkan kentang. "Dan kita?"

"Kita nggak bisa cuma tutup pintu." Noah duduk di kursi sebelahnya. "Karena kamu penjaga, dan dia udah lihat kamu. Kalau kita diem aja, dia bakal ngambil jalan lain."

"Jalan lain apa?"

Noah tidak menjawab langsung. Ia mengeluarkan sesuatu dari kantong jaketnya: sebuah kotak kaleng kecil, sebesar telapak tangan, dengan cat biru yang sudah mengelupas.

"Ini aku temuin dua tahun lalu," katanya. "Di bawah papan lantai kamar kosong di rumahku. Aku nggak pernah buka, karena..." ia berhenti.

"Karena apa?"

"Karena ada tulisan di tutupnya. 'Jangan dibuka kalau bukan penjaga.'"

Azel menatap kotak itu. Di tutupnya, dengan cat putih yang sudah hampir hilang, ada tulisan tangan yang miring dan rapi—tulisan yang sama dengan yang ada di belakang foto di dinding ruang tamu.

"Itu tulisan nenekku," katanya, pelan.

"Noah." Noah menyerahkan kotak itu. "Aku simpan dua tahun. Aku pikir aku bakal nemu penjaganya. Ternyata penjaganya yang nemu aku."

Azel mengambilnya. Kaleng itu dingin, lebih dingin dari udara sore, dan beratnya tidak sesuai ukurannya. Ia menekan tutupnya dengan ibu jari, dan tutup itu terbuka dengan bunyi kecil yang keras, seperti sesuatu yang menahan napas selama enam puluh tahun dan akhirnya menghembuskannya.

Di dalamnya: sebuah kunci besi tua, selembar kertas terlipat empat, dan sebuah liontin tembaga berbentuk lingkaran dengan tiga garis di tengahnya—sama seperti tanda di tengkuk Azel.

Azel membuka kertas itu. Tulisan tangan Harsini, rapi, dengan tinta yang sudah memudar jadi cokelat.

*Untuk penjaga sesudahku.*

*Kalau kamu membaca ini, berarti aku sudah tidak ada, dan ambang sudah mulai terbuka lagi. Ada empat hal yang harus kamu tahu, dan satu hal yang tidak boleh kamu lakukan.*

*Pertama: yang tinggal di rumah ini bukan hantu. Dia penjaga sebelum kita. Namanya tidak boleh disebut, karena menyebut nama berarti mengundang dia untuk menjawab. Dia sudah lama di sana, lebih lama dari rumah ini, dan dia tidak jahat. Dia hanya lapar akan nama.*

*Kedua: setiap dua puluh tujuh, dia butuh satu nama untuk menggantikannya sebentar. Kalau dia tidak dapat nama, dia akan mengambil yang paling dekat. Itu sebabnya orang-orang hilang. Bukan dibunuh. Dipinjam.*

*Ketiga: kamu bisa menahannya. Tanda di tengkukmu bukan hiasan. Kalau kamu memegang tengkukmu dan menyebut namamu sendiri dengan keras, dia tidak bisa mendekat. Ini bukan ilmu. Ini pengingat: kamu punya nama, dan dia tidak.*

*Keempat: Harjo, adikku, tidak hilang. Aku tahu itu sekarang, meski aku baru tahu setelah empat puluh tahun. Dia dipinjam, dan aku tidak bisa mengambilnya kembali karena aku tidak berani menyebut namanya. Kalau kamu lebih berani dari aku, ambil dia pulang.*

*Dan satu hal yang tidak boleh kamu lakukan: jangan pernah memberinya nama baru. Kalau dia punya nama, dia tidak perlu meminjam lagi. Dia akan tinggal, dan ambang akan tertutup selamanya, dan semua yang dia pinjam tidak akan pernah kembali.*

Kertas itu gemetar di tangan Azel. Ia membacanya dua kali, tiga kali, dan pada bacaan keempat ia baru menyadari bahwa Noah sudah lama tidak bicara.

"Noah."

Noah menatap kotak itu, dan wajahnya pucat.

"Kamu tahu isinya?" tanya Azel.

"Noah." Noah menelan. "Aku tahu bagian pertama. Aku tahu dia butuh nama. Aku nggak tahu soal Harjo." Ia mengangkat kepala. "Dan aku nggak tahu soal nama baru. Kalau aku tahu, aku mungkin udah ngasih dia nama, dan aku mungkin udah bikin kesalahan paling besar dalam sejarah kampung ini."

Azel meletakkan kertas itu. "Kenapa kamu mau ngasih dia nama?"

"Karena dia pernah nanya." Noah menatap cermin di ruang tamu, dan suaranya lebih pelan dari bisikan. "Waktu aku umur empat belas. Dia nanya, pelan banget, kayak orang yang udah lama nggak ngomong sama siapa-siapa. 'Aku boleh punya nama?'" Ia menutup mata. "Aku hampir bilang boleh. Aku hampir ngasih dia nama aku sendiri."

Azel menatapnya, dan merasakan sesuatu yang aneh: bukan takut, tapi marah. Marah pada sesuatu yang sudah enam puluh tahun mengemis nama dari anak-anak.

"Noah," katanya. "Lihat aku."

Noah membuka mata.

"Kalau nanti dia nanya lagi," kata Azel, "kamu jawab nggak."

"Kalau dia nanya ke kamu?"

"Kalau dia nanya ke aku," kata Azel, "aku jawab dia punya nama. Namanya penjaga. Dan penjaga nggak boleh minta nama orang lain."

Noah menatapnya lama, dan sesuatu di wajahnya berubah—bukan lega, tapi seperti orang yang baru pertama kali melihat sesuatu yang selama ini hanya ia bayangkan.

"Azel," katanya, dan suaranya aneh. "Kamu tahu itu artinya kamu udah nerima."

"Nerima apa?"

"Jadi penjaga." Noah mengangkat bahu, dan senyumnya miring, dan matanya basah. "Aku udah empat hari nyoba bilang ini tanpa bikin kamu lari, dan kamu baru ngerti sekarang."

Malam itu, mereka tidak tidur.

Noah memasang lilin di setiap sudut ruang tamu—bukan lampu, lilin, karena kata Harsini di kertas itu, cahaya yang terlalu terang membuat "dia" gelisah. Mereka duduk di lantai, punggung menempel dinding, dan di antara mereka ada kotak kaleng itu, terbuka, dengan liontin tembaga di atasnya.

"Pakai ini," kata Noah, menyodorkan liontin itu. "Nenek kamu nyimpen ini buat penjaga berikutnya."

Azel mengalungkannya. Tembaga itu dingin di kulitnya, lalu menghangat, dan untuk sesaat tengkuknya terasa hangat juga, seperti dua bagian dari satu benda yang akhirnya bertemu.

Pukul sebelas, kabut turun begitu tebal sehingga jendela tidak lagi menunjukkan apa pun selain putih.

Pukul setengah dua belas, Azel mendengar sesuatu yang baru: bukan langkah, bukan ketukan, tapi suara orang berjalan di kerikil. Banyak orang. Puluhan kaki, berjalan pelan, dari arah pasar.

"Noah," bisiknya. "Ada yang jalan di luar."

Noah sudah berdiri, menempel di jendela, mengintip lewat celah tirai. "Jangan lihat."

"Kenapa?"

"Karena mereka lihat ke dalam."

Azel tetap melihat. Ia tidak bisa menahan diri.

Di jalan depan rumah, dalam kabut, berbaris orang-orang. Mereka berjalan pelan, satu per satu, dengan tubuh yang tidak sepenuhnya utuh—ada yang kakinya tidak menyentuh tanah, ada yang kepalanya miring dengan sudut yang tidak mungkin, ada yang memakai pakaian dari zaman yang berbeda-beda: kebaya, seragam tentara, baju lusuh tahun sembilan puluhan.

Mereka semua berjalan ke arah rumah. Dan mereka semua berhenti di depan pagar, berbaris, dan menatap.

"Tujuh belas," bisik Azel, tanpa sadar.

"Noah." Noah menariknya dari jendela. "Jangan hitung mereka. Jangan ngitung apa pun. Kalau kamu ngitung, kamu ngakuin mereka ada."

"Aku udah lihat mereka."

"Noah." Noah memegang wajahnya dengan kedua tangan, memaksa Azel menatapnya. "Dengerin aku. Mereka bukan yang mau masuk. Mereka cuma... penonton. Yang mau masuk cuma satu. Dan dia belum datang."

Tangan itu dingin di pipi Azel, dan Azel menyadari bahwa mereka berdiri terlalu dekat, dan bahwa Noah tidak melepaskan tangannya meski sudah selesai bicara.

"Noah," katanya.

"Noah." Noah melepaskan tangan, pelan, dan mundur setengah langkah. "Maaf. Aku cuma—"

"Jangan minta maaf." Azel meraih pergelangan tangannya. "Jangan pernah minta maaf karena itu."

Pukul dua belas, ketukan itu datang.

Tiga kali. Dari pintu depan.

Azel merasakan tengkuknya panas—bukan dingin, panas, seperti sesuatu yang ditarik keluar dari dalam kulitnya. Ia mengangkat tangan, menutupinya dengan telapak, dan panas itu mereda sedikit.

"Noah." Noah meraih tangannya. "Kamu bisa nahan dia. Tanda kamu. Pegang tengkuk kamu, dan sebut nama kamu."

Azel menatapnya. "Kamu yakin?"

"Noah." Noah mengangguk, dan di matanya ada sesuatu yang lebih dari keyakinan—ada rasa takut yang sangat besar, ditahan dengan susah payah. "Aku nggak yakin. Tapi nenekmu yakin, dan aku percaya dia."

Ketukan kedua. Tiga kali lagi, lebih keras.

Azel meletakkan tangannya di tengkuknya. Kulitnya panas, dan di bawah jarinya, tiga garis itu terasa seperti kawat yang dipanaskan.

"Azel," katanya, keras, dan suaranya pecah di tengah ruangan. "Namaku Azel. Aku cucu Harsini. Aku penjaga rumah ini."

Ketukan ketiga tidak datang.

Yang datang adalah suara. Bukan suara ibunya kali ini. Bukan suara siapa-siapa yang ia kenal. Suara itu dalam, seperti suara seseorang yang berbicara dari dasar sumur, dan ia mengucapkan satu kata, sangat jelas, di depan pintu rumah:

"Penjaga."

Azel merasakan seluruh rambut di tubuhnya berdiri. Noah bergerak lebih cepat dari yang Azel sangka mungkin—ia menarik Azel menjauh dari pintu, mendorongnya ke belakang sofa, dan berdiri di depannya.

"Noah," kata Azel. "Kamu bilang dia belum bisa nyentuh."

"Noah." Noah tidak menoleh. "Aku bilang belum bisa nyentuh kamu. Aku nggak bilang dia nggak bisa nyentuh aku."

Dan pintu depan rumah neneknya terbuka sendiri, pelan, seperti seseorang membukanya dari luar dengan sangat hati-hati, dan kabut masuk ke ruang tamu seperti air yang menemukan celah di dinding.

Azel melihat Noah mengangkat tangan, dan ia melihat sesuatu di tangan itu—tidak ada apa-apa, hanya tangan kosong, tapi Noah mengangkatnya seperti orang mengangkat perisai.

"Noah, jangan—"

"Noah." Noah menoleh setengah, dan tersenyum, dan senyum itu membuat Azel ingin berteriak. "Kalau aku nggak keluar, jangan nyusul. Janji."

Dan kabut itu menelannya.