Bab 6
Nama yang Tidak Boleh Disebut
Kabut menelan Noah seperti air menelan batu, dan ruang tamu menjadi sunyi.
Azel berdiri di belakang sofa, dengan tangan masih terulur ke tempat Noah berdiri setengah detik lalu, dan untuk tiga detik penuh ia tidak bisa bergerak. Bukan karena takut. Karena kepalanya menolak menerima apa yang baru saja ia lihat: bahwa ada orang yang berdiri di situ, dan sekarang tidak ada.
"Noah?" Suaranya keluar seperti suara orang lain.
Kabut itu bergerak di ruang tamu, pelan, mengelilingi meja, menyentuh sofa, dan di dalamnya Azel melihat bentuk-bentuk yang tidak seharusnya ada: bahu, punggung, tangan yang terangkat.
Dan kemudian ia mendengar Noah.
Bukan dari dalam kabut. Dari suatu tempat yang jauh, seperti suara yang datang dari dasar sumur—pelan, teredam, dan sangat jelas mengucapkan satu kata:
"Azel."
Azel merasakan tengkuknya panas, dan liontin tembaga di lehernya ikut panas, dan untuk pertama kalinya ia mengerti kenapa neneknya menulis kalimat itu di kertas: *ini bukan ilmu, ini pengingat.*
Ia tidak berpikir. Ia hanya bertindak.
Ia meletakkan tangannya di tengkuknya, dan ia berjalan ke dalam kabut.
Dinginnya bukan dingin udara. Dinginnya seperti masuk ke dalam air yang mengalir ke atas—menekan dari segala arah, menekan dada, menekan telinga, dan di dalamnya suara-suara itu: ratusan suara, berbicara bersamaan, memanggil nama-nama yang tidak ia kenal.
Dan di tengah semuanya, satu suara, sangat dekat:
"Azel. Jangan."
Noah.
Azel membuka mata—ia tidak sadar sudah menutupnya—dan melihat Noah berdiri tiga langkah darinya, dengan tangan terentang, dan di belakang Noah ada sesuatu yang memegang bahunya.
Sesuatu itu tidak punya bentuk. Ia seperti bayangan yang mengalir, dan ia memegang bahu Noah dengan cara yang hampir lembut, seperti orang memegang sesuatu yang berharga dan tidak ingin merusaknya.
"Noah." Azel melangkah maju.
"Jangan." Noah menggeleng, dan wajahnya pucat, dan suaranya tenang dengan ketenangan yang mengerikan. "Kalau kamu masuk lebih jauh, kamu nggak bisa keluar. Ini bukan tempat kamu."
"Kamu juga bukan."
"Aku udah pernah di sini." Noah tersenyum tipis. "Aku tahu jalannya."
Sesuatu di belakang Noah bergerak, dan Azel melihat—jelas, untuk pertama kalinya—wajah yang dipakainya sekarang. Wajah seorang lelaki muda dengan pakaian dari zaman yang jauh lebih tua dari rumah ini, dengan mata yang lelah, dan mulut yang bergerak-gerak seperti orang yang berlatih mengucapkan sesuatu.
"Azel," kata sesuatu itu, dengan suara Azel. "Kamu bisa pulang. Aku cuma butuh satu nama. Setelah itu, aku nggak akan ganggu kamu lagi."
"Noah, jangan dengerin—"
"Noah." Sesuatu itu menoleh ke Noah, dan wajahnya berubah: perempuan tua, kebaya gelap, sanggul rapi. "Kamu masih kecil waktu ibu kamu meninggal. Kamu masih nunggu dia pulang, kan?"
Noah membeku.
Azel melihat perubahan itu—bukan di wajah Noah, tapi di tubuhnya. Bahunya turun. Tangannya yang terentang jatuh ke samping. Dan Azel tahu, dengan kepastian yang mengerikan, bahwa Noah sedang mendengar sesuatu yang tidak bisa ia tolak.
"Noah!" Azel meraih wajah Noah dengan kedua tangan, memaksa Noah menatapnya. "Jangan lihat dia. Lihat aku. Lihat mata aku."
Noah menatapnya, dan untuk sesaat, matanya kosong.
"Noah, kamu punya nama," kata Azel, dan suaranya pecah. "Kamu Noah. Kamu tinggal di Sukamaju. Kamu bantuin bapak kamu di bengkel. Kamu minum kopi pahit. Kamu hafal tujuh puluh tiga nama orang mati." Ia menelan. "Kamu nyium aku tadi. Kamu nggak boleh pergi sebelum aku bales."
Sesuatu di mata Noah berubah.
"Noah," katanya, dan suaranya serak. "Kamu nyebut aku."
"Ya."
"Kamu nyebut nama aku." Noah menatapnya, dan sekarang matanya penuh—bukan kosong, penuh, terlalu penuh. "Di sini. Di depan dia."
Azel baru menyadari apa yang baru saja ia lakukan.
Di belakang Noah, sesuatu itu berhenti bergerak. Berhenti sepenuhnya, seperti binatang yang baru mendengar suara ranting patah.
"Noah," kata Azel, dan ia merasakan dingin menjalar dari tengkuk ke tulang belakang. "Aku nyebut nama kamu."
"Noah." Noah mengangguk, pelan, dan wajahnya berubah dari pucat menjadi sesuatu yang lain—bukan takut, tapi seperti orang yang baru saja mengerti taruhan yang sedang dimainkan. "Ya. Kamu nyebut nama aku. Dan sekarang dia punya nama aku."
Sesuatu itu membuka mulut.
Dan Azel melakukan hal yang paling bodoh yang bisa dilakukan: ia menarik Noah.
Ia meraih kerah jaket Noah dengan kedua tangan, menariknya sekuat tenaga, dan ia berteriak—bukan kata, hanya suara, suara yang keluar dari tempat yang tidak pernah ia pakai—dan liontin di lehernya panas seperti besi, dan tengkuknya panas, dan seluruh tubuhnya panas.
Kabut itu menjerit.
Bukan suara manusia. Suara seperti kaca yang retak dari dalam, dan Azel merasakan sesuatu melepaskan Noah—bukan dengan lembut, tapi seperti kain yang disobek—dan kemudian mereka jatuh.
Azel menghantam lantai ruang tamu dengan punggung, dan Noah menghantamnya dengan seluruh berat tubuhnya, dan untuk beberapa detik tidak ada suara selain dua orang yang berusaha mengisi paru-paru mereka.
Pintu depan menutup sendiri. Kabut mengalir keluar lewat celah di bawahnya seperti air yang ditarik kembali ke laut.
Azel berbaring di lantai, menatap langit-langit, dengan Noah di atasnya, dan ia merasakan sesuatu yang basah di pipinya sendiri.
"Noah," katanya.
Noah tidak menjawab. Ia hanya mengangkat kepala, dan menatap Azel dari jarak yang sangat dekat, dan Azel melihat bahwa wajahnya basah juga.
"Kamu bodoh," kata Noah, dan suaranya pecah di tengah. "Kamu bodoh, kamu bodoh, kamu nggak boleh nyebut nama aku di tempat itu—"
"Aku tahu."
"Kalau dia pakai nama aku—"
"Aku tahu." Azel mengangkat tangan, dan meletakkannya di tengkuk Noah, dan menariknya turun. "Tapi kamu masih di sini."
Noah menutup mata, dan kepalanya jatuh ke bahu Azel, dan mereka berbaring di lantai ruang tamu seperti dua orang yang baru saja keluar dari air.
"Noah," kata Azel, setelah beberapa saat.
"Noah."
"Aku lihat sesuatu. Di dalam kabut. Waktu aku nyebut nama kamu." Azel menatap langit-langit. "Aku lihat seorang anak laki-laki. Dia berdiri di antara mereka, dan dia nengok waktu aku nyebut nama kamu."
Noah mengangkat kepala. "Kayak apa dia?"
"Kemeja putih. Celana pendek. Umur kayak kita." Azel menelan. "Dia mirip kamu."
Noah tidak bergerak. Dan kemudian ia bangkit, pelan, dan duduk dengan punggung menempel sofa, dan menatap cermin di dinding.
"Noah," kata Azel, dan ia ikut duduk. "Siapa dia?"
Noah menutup mata. "Harjo."
"Harjo itu—"
"Kakek aku." Noah membuka mata. "Kakek dari bapak aku."
Azel tidak bilang apa-apa. Ia hanya duduk di sana, di lantai, dan menunggu.
"Bapak aku lahir tahun enam puluh dua," kata Noah, dan suaranya datar, seperti orang membaca dari buku. "Ibu Harjo sudah hamil waktu Harjo hilang. Jadi bapak aku nggak pernah kenal bapaknya sendiri. Dan aku tumbuh dengan cerita bahwa kakekku hilang di hutan, dan aku baru tahu kebenarannya waktu aku umur tiga belas dan mulai lihat hal-hal yang nggak seharusnya aku lihat."
"Noah."
"Aku nggak pernah bilang ke siapa-siapa." Noah menoleh, dan matanya merah. "Bapak aku nggak tahu. Bu Tini nggak tahu. Kampung ini nggak tahu bahwa yang mereka takutin setiap tanggal dua puluh tujuh itu... orang yang ninggalin keluarga aku."
Azel meraih tangannya. Tangan itu dingin, seperti biasa, dan Azel menggenggamnya dengan kedua tangan.
"Kita ambil dia pulang," katanya.
Noah menatapnya. "Apa?"
"Harjo. Kita ambil dia pulang." Azel menatapnya lurus. "Nenekku nulis caranya. Dia nggak berani. Aku berani."
Noah menatapnya lama sekali, dan di wajahnya ada sesuatu yang bergerak—sesuatu yang sudah lama ditahan, dan yang akhirnya keluar.
"Kamu baru enam hari di sini," katanya, dan suaranya pecah. "Kamu baru enam hari, dan kamu udah mau masuk ke tempat yang makan kakek aku."
"Aku udah masuk tadi."
"Tadi beda. Tadi kamu nyusul aku."
"Dan aku bakal nyusul kamu lagi," kata Azel. "Jadi mendingan kita masuk bareng, dan keluar bareng."
Noah tertawa. Tawa yang basah, pendek, dan sama sekali tidak lucu. Lalu ia menunduk, dan dahinya menyentuh bahu Azel, dan bahunya bergetar.
Azel tidak bilang apa-apa. Ia hanya duduk di sana, di lantai ruang tamu rumah neneknya, dengan lilin yang hampir habis dan cermin yang memantulkan dua orang yang saling berpegangan, dan ia membiarkan Noah menangis selama yang ia butuhkan.
Ketika Noah akhirnya mengangkat kepala, wajahnya sudah kering, dan matanya sudah lain—lebih terang, lebih tajam, seperti orang yang baru saja mengambil keputusan.
"Besok," katanya. "Kita cari buku nenek kamu. Semua. Kalau ada cara, itu ada di situ."
"Noah." Azel mengangguk. "Besok."
Noah berdiri, dan mengulurkan tangan, dan Azel menerimanya. Dan ketika Azel berdiri, mereka berdiri terlalu dekat, dan tidak ada yang bergerak menjauh.
"Noah," kata Azel, pelan.
"Noah?"
"Tadi, di dalam kabut." Azel menatapnya. "Kamu denger suara ibumu."
Noah mengangguk.
"Dan kamu hampir pergi."
Noah mengangguk lagi, dan kali ini ia menunduk, dan Azel melihat rahangnya menegang.
"Noah." Azel mengangkat dagunya dengan dua jari. "Kalau nanti dia pakai suara ibuku, aku juga bakal hampir pergi. Jadi kalau aku hampir pergi, tarik aku. Jangan mikir. Tarik aja."
Noah menatapnya, dan sesuatu di matanya berubah—dan kemudian ia mencium Azel.
Bukan seperti tadi di teras, yang cepat dan canggung. Kali ini lebih lama, dan lebih tenang, dan tangan Noah naik ke tengkuk Azel dan berhenti di situ, di atas tiga garis yang panas itu, seperti orang yang memegang sesuatu yang berharga dan tahu persis betapa mudahnya ia bisa hilang.
Ketika mereka berpisah, Noah masih menempelkan dahinya ke dahi Azel, dan napasnya tidak teratur.
"Kamu bilang kamu mau bales," katanya.
"Noah." Azel tersenyum. "Aku udah bales."
"Noah." Noah mundur, dan telinganya merah, dan ia berjalan ke sofa, dan berbaring dengan wajah menghadap sandaran. "Tidur. Besok kita cari buku."
Azel berbaring di lantai, dengan selimut, dan menatap langit-langit, dan merasakan sesuatu yang sangat aneh: bahwa ia baru saja masuk ke dalam kabut, melihat sesuatu yang bukan manusia, hampir kehilangan orang yang baru ia kenal enam hari—dan ia merasa lebih hidup daripada kapan pun dalam dua tahun terakhir.
"Noah," katanya, dalam gelap.
"Noah."
"Makasih udah ngetuk empat kali."
Dari sofa, terdengar suara tawa kecil, dan kemudian sunyi, dan kemudian napas yang teratur.
Dan untuk pertama kalinya sejak ia turun dari bus, Azel tidur tanpa mimpi.