Bab 7
Cermin di Kamar Nenek
Kamar nenek Azel ada di lantai bawah, di ujung lorong pendek di samping dapur, dan pintunya terkunci sejak hari pertama.
Azel sudah mencoba membukanya waktu ia baru pindah—bukan karena penasaran, hanya karena ia ingin tahu apakah ada selimut tambahan. Gagangnya berputar tapi tidak bergerak, dan ia pikir itu karena kunci tua yang macet, jadi ia menyerah.
Pagi itu, dengan Noah di sampingnya dan kotak kaleng Harsini di tangan, ia mencoba lagi.
"Noah, kuncinya ada di dalam kotak."
"Noah." Noah mengambil kunci besi tua itu, memasukkannya ke lubang, dan memutar. Mekanismenya berbunyi keras, seperti sesuatu yang patah, dan pintu itu terbuka.
Kamar itu kecil. Tempat tidur single dengan sprei yang dilipat rapi, meja dengan kursi, dan di dinding—cermin.
Bukan cermin besar seperti di ruang tamu. Cermin ini kecil, seukuran wajah, dengan bingkai kayu yang diukir bunga. Ia tergantung di dinding tepat di seberang tempat tidur, dan di bawahnya ada rak dengan tujuh buku tulis bersampul kain, tersusun rapi menurut tahun.
"Tujuh buku," kata Azel.
"Noah." Noah menghitung dengan jarinya. "Satu per tujuh tahun. Dia nulis semuanya."
Azel mengambil buku pertama. Sampulnya bertuliskan *1961–1968*. Ia membukanya, dan di halaman pertama, dengan tulisan tangan yang masih muda dan agak gemetar, ada satu kalimat:
*Harjo hilang malam ini. Aku tidak bisa menyebut namanya. Aku akan menulis namanya di sini, karena di sini dia aman.*
Azel membalik halaman. Nama Harjo muncul sembilan belas kali di halaman pertama, ditulis dengan tekanan yang berbeda-beda, seperti perempuan yang berlatih mengucapkan sesuatu yang tidak boleh ia ucapkan.
"Kenapa dia nulis nama itu berkali-kali?" tanya Azel.
"Noah." Noah duduk di tepi tempat tidur. "Karena nama yang ditulis bukan nama yang diucapkan. Dia coba nyimpen nama Harjo di kertas supaya nggak lupa, tanpa harus nyebut di udara."
Azel menutup buku itu, mengambil yang kedua, yang ketiga. Semuanya sama: catatan harian yang berubah jadi catatan penelitian. Harsini mencatat setiap tanggal dua puluh tujuh, setiap nama yang hilang, setiap pola. Di buku keempat, tahun sembilan puluhan, tulisannya mulai lebih rapi, lebih dingin, seperti laporan.
Dan di buku keenam, ada sesuatu yang berbeda.
*Sekarang aku tahu cara mengambil yang dipinjam. Tapi aku tidak berani. Aku sudah tua, dan kalau aku gagal, tidak akan ada penjaga lagi setelah aku.*
*Azel, kalau kamu membaca ini, dengarkan: ambang bukan pintu. Ambang adalah nama lain untuk jarak. Jarak antara yang hidup dan yang dipinjam. Untuk mengambil Harjo, kamu harus masuk ke jarak itu, dan untuk masuk, kamu harus memberi sesuatu yang lebih berat dari nama.*
*Yang paling berat yang kamu punya adalah nama kamu sendiri.*
Azel menatap halaman itu lama. Di sebelahnya, Noah membaca dengan dagu di bahu Azel, dan Azel bisa merasakan napasnya.
"Memberi nama sendiri," kata Noah, pelan. "Itu artinya kalau kamu masuk, kamu nggak bisa balik dengan nama yang sama."
"Atau nggak bisa balik sama sekali."
"Noah." Noah menatapnya. "Aku nggak akan bolehin kamu."
"Kamu nggak bisa nglarang aku."
"Aku bisa." Noah menatapnya lurus. "Aku bisa ikut masuk, dan aku bisa narik kamu keluar sebelum kamu ngasih apa pun."
Azel menutup buku itu. "Kamu bilang semalam kamu nggak bisa nyentuh mereka."
"Noah." Noah berdiri. "Aku bilang mereka nggak bisa nyentuh aku. Itu beda." Ia berjalan ke cermin kecil di dinding, dan menatap pantulannya sendiri. "Aku bisa masuk. Aku udah pernah masuk."
Azel menoleh cepat. "Apa?"
"Waktu aku umur lima belas." Noah tidak menoleh dari cermin. "Aku nyoba nyari bapak aku—bukan bapak yang di rumah, tapi kakek aku, Harjo. Aku masuk lewat cermin ruang tamu. Aku nggak tahu caranya waktu itu, aku cuma pengen lihat. Dan aku nyangkut di dalam selama..." ia berhenti, menghitung. "Tiga jam. Di luar cuma tiga jam. Di dalam, rasanya kayak tiga hari."
"Kamu lihat apa?"
"Noah." Noah menyentuh bingkai cermin. "Aku lihat Harjo. Dia yang nolongin aku keluar. Dia nyuruh aku lari, dan aku lari, dan pintunya nutup sendiri di belakang aku." Ia menoleh. "Sejak itu aku tahu dia masih ada di sana. Dan sejak itu aku tahu dia masih bisa mikir, masih bisa milih, masih bisa nolongin orang."
Azel berdiri, dan berjalan ke samping Noah, dan berdiri di depan cermin kecil itu bersamanya.
Di dalam cermin, dua orang berdiri berdampingan: seorang anak laki-laki dengan kemeja yang sudah kusut, dan seorang anak laki-laki dengan jaket abu-abu. Yang satu terlihat seperti orang yang baru pindah, yang satu terlihat seperti orang yang tidak pernah pergi.
"Kamu pernah mikir nggak," kata Azel, "kenapa kamu masih di sini?"
"Noah." Noah menatap pantulan Azel di cermin. "Setiap hari."
"Dan?"
"Noah." Noah menoleh, dan tatapannya jatuh ke wajah Azel, dan berhenti di situ. "Dulu aku pikir karena aku nggak punya pilihan. Sekarang aku pikir..." ia berhenti.
"Sekarang kamu pikir apa?"
Noah tidak menjawab dengan kata. Ia hanya mengangkat tangan, dan menyentuh pipi Azel dengan punggung jarinya, pelan, seperti orang menyentuh sesuatu yang bisa pecah.
Azel menoleh ke arahnya, dan mereka berdiri di depan cermin kecil di kamar neneknya, dan Azel melihat pantulan mereka—dua orang, terlalu dekat, dengan cahaya pagi yang masuk lewat celah tirai.
"Noah," katanya. "Kalau aku tanya kamu sekarang, kamu bakal jawab jujur?"
"Noah." Noah menurunkan tangannya. "Coba."
"Kamu suka aku karena aku penjaga, atau karena aku aku?"
Noah menatapnya lama. Lalu ia tertawa—tawa yang pendek, gugup, dan sama sekali tidak lucu—dan mengusap wajahnya dengan tangan.
"Kamu tahu nggak," katanya, "aku udah nyiapin jawaban buat pertanyaan yang lebih susah dari itu."
"Jawab aja."
"Noah." Noah menatapnya. "Aku nggak peduli kamu penjaga. Kalau kamu bukan penjaga, aku malah lebih tenang. Aku suka kamu karena kamu ngomong sendiri di rumah kosong, dan kamu ngupas kentang sambil nyanyi, dan kamu nanya aku udah makan sebelum nanya apa pun yang lain." Ia menelan. "Dan karena waktu aku bilang aku nggak punya siapa-siapa, kamu nggak bilang 'kasihan'. Kamu bilang 'sekarang punya'."
Azel tidak ingat pernah bilang itu.
"Kamu bilang itu," kata Noah, seperti membaca pikirannya. "Semalam. Waktu kamu hampir tidur. Kamu pikir aku udah tidur."
Azel menutup mata. "Itu memalukan."
"Itu," kata Noah, "satu-satunya alasan aku masih di sini pagi ini."
Dan Azel menciumnya.
Kali ini tidak ada yang canggung. Azel meraih kerah jaket Noah dan menariknya, dan Noah membalas dengan tangan yang langsung menemukan tengkuk Azel, dan untuk beberapa saat kamar kecil itu hanya berisi dua orang yang berpegangan seperti orang yang takut kehilangan pijakan.
Ketika mereka berpisah, Noah menempelkan dahinya ke dahi Azel, dan napasnya tidak teratur, dan Azel merasakan jantung Noah berdetak terlalu cepat lewat jaket yang mereka masih pegang.
"Kita harus masuk hari ini," kata Noah, pelan.
"Noah." Azel membuka mata.
"Kalau kita nunggu tanggal dua puluh tujuh lagi, dia bakal lebih kuat. Sekarang dia masih lemah, karena semalam dia gagal." Noah mundur, dan wajahnya sudah berubah lagi—sudah jadi wajah orang yang menghitung. "Dan aku udah nyebut nama kamu di dalam sana. Itu artinya dia bisa pakai nama kamu buat manggil kamu. Kita nggak punya banyak waktu."
Azel mengangguk. Ia mengambil liontin tembaga di lehernya, dan menggenggamnya.
"Noah," katanya. "Sebelum kita masuk. Ada satu hal."
"Apa?"
"Kalau kita keluar, dan semuanya baik-baik aja..." Azel menatapnya. "Kamu mau tetap di sini?"
Noah menatapnya, dan senyumnya miring, dan matanya basah.
"Aku udah tujuh belas tahun di sini," katanya. "Baru kali ini ada alasan."
Mereka menghabiskan sisa pagi menyiapkan. Noah menulis sesuatu di buku catatannya sendiri—daftar hal yang harus mereka bawa, hal yang harus mereka lakukan, hal yang tidak boleh mereka lakukan. Azel mengumpulkan lilin, korek, dan sebotol air. Ia juga mengambil foto di dinding ruang tamu, foto Harsini dan Harjo tahun 1961, dan memasukkannya ke kantong jaketnya.
Menjelang sore, Noah berdiri di depan cermin ruang tamu dan berkata, pelan, seperti orang mengucapkan doa:
"Kami datang bukan untuk meminjam. Kami datang untuk mengembalikan."
Cermin itu berembun dari dalam.
Azel merasakan tengkuknya panas, dan kali ini ia tidak menutupinya. Ia membiarkan panas itu menyebar, dan ia merasakan sesuatu yang aneh: bukan takut, tapi seperti berdiri di tepi kolam dan tahu bahwa airnya dingin, dan tetap melangkah.
"Noah," katanya, dan Noah menoleh. "Kalau nanti aku nggak bisa balik, kamu harus pulang. Kamu harus jagain rumah ini."
"Noah." Noah menatapnya, dan Azel melihat bahwa Noah ingin mengatakan sesuatu yang lain—sesuatu yang sudah lama ia tahan, dan yang sekarang hampir keluar.
"Kamu harus janji," kata Azel.
"Aku nggak bisa janji itu." Noah melangkah lebih dekat. "Karena kalau kamu nggak balik, aku nggak punya alasan buat jagain apa pun."
Azel meraih tangannya. "Ya udah. Jangan janji apa-apa. Cuma jangan lepas tangan aku."
"Noah." Noah menggenggam tangannya, kuat. "Itu janji yang bisa aku pegang."
Dan mereka melangkah bersama, dan kaca itu menerima mereka seperti air menerima batu.