← Ambang

Bab 8

Ambang Terbuka

Di dalam cermin, Sukamaju terbalik.

Bukan terbalik seperti pantulan—terbalik seperti foto yang dicetak negatif. Langitnya hitam, tanahnya kelabu, dan kabut yang di dunia nyata putih di sini berwarna asap yang mengalir ke atas. Rumah-rumah berdiri di tempat yang sama, tapi tidak ada satu pun yang punya pintu. Jendelanya kosong, seperti mata yang dicungkil.

Azel berdiri di jalan depan rumah neneknya, dan di sampingnya Noah berdiri dengan tangan terkepal.

"Kita di dalam," kata Noah, pelan. "Jangan lepas dari aku. Jangan lari. Kalau ada yang manggil, jangan jawab."

"Kamu udah pernah ke sini."

"Noah." Noah menatap jalan yang membentang ke arah pasar. "Tiga jam. Aku inget semuanya."

Mereka berjalan. Di sini, jalanan terasa lebih panjang, dan setiap langkah terdengar dua kali—langkah mereka, dan gema langkah yang datang setengah detik kemudian. Azel mencoba tidak memikirkan siapa yang membuat gema itu.

Di depan gereja, ada orang berdiri.

Bukan tujuh belas. Satu. Seorang lelaki tua dengan kemeja lusuh dan rambut putih, berdiri di depan pintu gereja yang tidak ada, menatap mereka dengan mata yang kosong.

"Jangan," kata Noah, saat Azel melambat. "Dia bukan yang kita cari."

"Mereka semua di sini?"

"Noah." Noah mengangguk. "Semua yang pernah dipinjam. Mereka nunggu."

"Nunggu apa?"

"Noah." Noah menatapnya. "Nunggu ada yang inget nama mereka."

Azel berhenti. "Aku nggak tahu nama mereka."

"Noah." Noah menoleh. "Aku tahu. Aku hafal tujuh puluh tiga nama." Ia menelan. "Tapi di sini, nyebut nama orang yang dipinjam itu bahaya. Karena yang denger bukan cuma mereka."

Mereka melewati pasar. Di sini, tenda-tenda berdiri kosong dan basah, dan sumur di belakang pasar terbuka—tidak ada penutup beton, tidak ada rantai, tidak ada gembok. Dari dalam sumur, kabut mengalir ke atas seperti asap dari api yang tidak kelihatan.

Azel berhenti. "Sumur ini pintunya."

"Noah." Noah menatapnya. "Sumur ini yang pertama. Rumah kamu dibangun di atas jalur yang nyambung ke sini."

"Aku nggak mau lewat sumur."

"Kita nggak lewat." Noah menunjuk ke arah bukit. "Harjo di sana. Aku tahu tempatnya."

Bukit di dalam cermin tidak punya rumput. Tanahnya kelabu dan keras, dan batu-batu nisan berdiri di tempat yang sama seperti di dunia nyata—tapi di sini, di depan setiap batu, ada sosok yang berdiri.

Tujuh belas sosok. Tujuh belas wajah. Mereka tidak menatap Azel. Mereka menatap batu mereka sendiri, seperti orang membaca nama mereka sendiri berulang-ulang.

Dan di batu yang paling kecil, di ujung barisan, berdiri seorang anak laki-laki dengan kemeja putih.

Harjo mengangkat kepala saat mereka mendekat. Wajahnya persis seperti di foto: bulat, ramah, dengan mata yang sedikit terlalu besar untuk wajahnya. Ia tidak terlihat seperti orang yang sudah enam puluh tahun di tempat ini. Ia terlihat seperti baru kemarin keluar dari rumah.

"Kamu Harsini," katanya, dan suaranya serak karena jarang dipakai. "Kamu tua."

"Aku bukan Harsini," kata Azel. "Aku cucunya. Azel."

Harjo menatapnya lama. Lalu matanya berpindah ke Noah, dan wajahnya berubah—bukan terkejut, tapi seperti orang yang melihat sesuatu yang sudah ia tunggu sangat lama.

"Kamu yang dulu masuk," katanya. "Yang kecil. Yang nangis."

"Noah." Noah melangkah, dan suaranya tegang. "Kakek."

Harjo menatapnya, dan untuk sesaat tidak ada yang bicara. Lalu Harjo tertawa—tawa pendek, kering, seperti kertas yang diremas. "Kamu besar," katanya. "Kamu mirip bapak kamu."

"Kakek, kita datang buat bawa kamu pulang."

Tawa itu berhenti. Harjo menggeleng, pelan.

"Tidak bisa," katanya. "Aku sudah dipinjam. Kalau aku keluar tanpa ada yang ganti, dia akan ambil yang lain. Dia selalu ambil yang lain."

"Kita punya cara," kata Azel. "Nenekku nulis. Ada cara buat ngambil yang dipinjam."

Harjo menatapnya, dan di matanya ada sesuatu yang Azel tidak suka: belas kasihan.

"Dia nulis itu waktu dia masih muda," kata Harjo. "Waktu dia pikir semua bisa dibayar." Ia menunjuk ke arah sumur. "Dia nggak pernah nyoba. Karena dia tahu harganya."

"Harganya apa?"

"Namamu," kata Harjo. "Bukan cuma diucapkan. Diberikan. Kamu harus kasih dia nama kamu, dan selama kamu di sini, kamu nggak punya nama. Orang yang nggak punya nama nggak bisa pulang, karena pulang itu artinya ada yang manggil kamu."

Azel merasakan dingin di tengkuknya.

"Noah," kata Noah, dan suaranya keras. "Kita nggak lakuin itu. Kita cari cara lain."

"Tidak ada cara lain," kata Harjo. "Aku udah enam puluh tahun nyari."

"Terus kenapa kamu masih di sini?" tanya Azel, dan suaranya lebih keras dari yang ia maksud. "Kalau nggak ada cara, kenapa kamu masih berdiri di depan batu itu? Kenapa kamu nggak udah pergi kayak yang lain?"

Harjo menatapnya, dan untuk pertama kalinya, wajahnya berubah—bukan belas kasihan lagi, tapi sesuatu yang lebih tua dan lebih lelah.

"Karena aku nunggu," katanya. "Aku nggak tahu nunggu apa. Tapi aku nunggu."

"Kamu nunggu Harsini," kata Azel. "Kamu nunggu kakak kamu datang."

Harjo tidak menjawab. Ia hanya menatap Azel, dan matanya—mata yang sama dengan mata Noah, hanya lebih tua dan lebih kosong—berkaca.

"Dia nggak pernah datang," katanya, pelan. "Empat puluh tahun. Dia nggak pernah datang."

"Dia nggak berani." Azel melangkah maju, satu langkah, dan Noah bergerak di sampingnya. "Dia nulis namamu sembilan belas kali di halaman pertama buku hariannya, karena dia nggak berani nyebut. Dia takut kalau dia nyebut, kamu bakal jawab, dan dia bakal kehilangan kamu lagi."

Harjo menutup mata.

"Aku nggak takut," kata Azel. "Aku udah nyebut nama kamu semalam. Di depan dia. Dan aku masih di sini."

Harjo membuka mata, dan untuk sesaat, sesuatu di wajahnya berubah—seperti orang yang baru mendengar kabar bahwa perang sudah selesai.

"Kamu nyebut namaku," katanya, pelan, seperti orang mencoba kata-kata baru.

"Aku nyebut nama kamu," kata Azel. "Dan sekarang aku nyebut lagi. Harjo. Namamu Harjo. Kamu adik Harsini. Kamu penjaga sebelum dia. Kamu hilang tanggal dua puluh tujuh, tahun enam puluh satu, dan kamu bukan orang jahat, dan kamu nggak harus tinggal di sini lagi."

Dan sesuatu di bukit itu—seluruh bukit—berhenti.

Tujuh belas sosok mengangkat kepala. Tujuh belas pasang mata menatap Azel. Dan untuk pertama kalinya sejak mereka masuk, Azel melihat bahwa mereka bukan menatapnya dengan lapar. Mereka menatapnya dengan sesuatu yang sangat mirip harapan.

"Noah," bisik Noah. "Kamu bikin mereka denger."

"Aku tahu."

"Kamu bikin dia denger juga."

Sebelum Azel bisa menjawab, kabut di belakang mereka berhenti bergerak.

Azel merasakannya sebelum melihatnya: panas di tengkuknya, dan kemudian dingin, seperti seseorang menuangkan air ke punggungnya. Ia berbalik.

Sesuatu berdiri di ujung bukit. Tinggi, gelap, dengan bentuk yang terus berubah—perempuan, anak, bayangan—dan kali ini ia tidak berhenti di ambang pintu. Ia berjalan ke arah mereka, dan setiap langkahnya membuat tanah kelabu itu retak.

"Noah," kata Azel. "Dia datang."

"Noah." Noah menarik Azel ke belakangnya. "Harjo, kalau kamu tahu apa yang harus kita lakuin, sekarang waktunya."

Harjo tidak menjawab. Ia menatap sesuatu di belakang mereka—dan Azel melihat wajahnya berubah, dari belas kasihan menjadi ketakutan yang sangat tua.

"Jangan biarkan dia nyebut nama kalian," katanya. "Kalau dia nyebut nama kalian, kalian jadi milik dia."

Sesuatu itu berhenti tiga langkah dari mereka. Kabutnya membuka, dan di dalamnya ada wajah—wajah Azel sendiri.

"Azel," kata sesuatu itu, dengan suara Azel. "Kamu lelah. Kamu sendirian. Aku bisa jaga rumah itu buat kamu. Kamu nggak perlu jaga apa pun lagi."

Azel merasakan lututnya lemas. Suara itu masuk tanpa hambatan, seperti air ke tanah kering, dan untuk satu detik yang mengerikan, Azel benar-benar ingin mengangguk.

"Noah." Noah menangkap tangannya. "Jangan."

Lalu sesuatu itu menoleh ke Noah, dan wajahnya berubah lagi—menjadi wajah perempuan yang lebih tua, dengan kerutan di sudut mata dan sanggul rapi.

"Noah," katanya, dengan suara yang sangat lembut. "Kamu masih kecil waktu ibu kamu meninggal. Kamu masih nunggu dia pulang, kan?"

Noah membeku.

"Noah." Suara itu melangkah lebih dekat. "Aku bisa bawa dia pulang. Cuma sekali. Cuma sebentar. Kamu mau lihat ibu kamu lagi?"

Azel melihat tangan Noah gemetar. Ia melihat mata Noah—mata yang berwarna madu itu—dan ia melihat sesuatu di sana yang belum pernah ia lihat: seorang anak laki-laki berumur tujuh tahun yang menunggu di depan pintu.

"Noah!" Azel meraih wajah Noah dengan kedua tangan, memaksa Noah menatapnya. "Jangan lihat dia. Lihat aku. Lihat mata aku."

Noah menatapnya, dan perlahan, sesuatu di matanya kembali.

"Kamu punya nama," kata Azel, keras. "Kamu Noah. Kamu tinggal di Sukamaju. Kamu bantuin bapak kamu di bengkel. Kamu minum kopi pahit. Kamu hafal tujuh puluh tiga nama orang mati. Kamu—" suaranya pecah. "Kamu nyium aku tadi pagi, di kamar nenekku, dan kamu bilang itu satu-satunya alasan kamu masih di sini."

Noah tertawa. Tawa yang pecah, basah, setengah menangis. "Itu nggak romantis."

"Noah." Azel menempelkan dahinya ke dahi Noah. "Itu paling romantis yang pernah aku denger."

Dan sesuatu itu—untuk pertama kalinya—mundur satu langkah.

Harjo menatap mereka, dan di matanya ada sesuatu yang Azel kenali sekarang: harapan.

"Kalian berdua," katanya, pelan. "Kalian bisa nahan dia bareng. Aku nggak bisa sendirian dulu, karena aku nggak punya siapa-siapa. Tapi kalian..."

"Harjo, gimana caranya?"

Harjo mengangkat tangan, dan menunjuk ke arah Azel—tepat ke tengkuknya.

"Kasih dia namamu," katanya. "Bukan buat dia pakai. Buat dia inget. Kalau dia inget nama kamu, dia nggak bisa jadi kamu. Dan kalau dia nggak bisa jadi kamu, dia nggak bisa masuk ke rumah kamu."

Azel menatap Noah. Noah menatapnya kembali, dan mengangguk.

"Tunggu," kata Noah. "Itu artinya kamu kasih nama kamu, dan kamu di sini tanpa nama. Kamu bakal lupa siapa kamu."

"Noah." Azel menoleh. "Kamu bakal inget buat aku."

"Noah—"

"Kamu hafal tujuh puluh tiga nama," kata Azel. "Hafal satu lagi."

Noah menatapnya, dan air mata jatuh dari matanya tanpa ia sadari, dan ia tidak mengusapnya.

"Noah." Azel mengangkat tangan, dan menyentuh pipi Noah dengan punggung jarinya, pelan, seperti Noah menyentuhnya pagi itu di kamar neneknya. "Kalau aku lupa siapa aku, kamu ingetin. Kamu bilang aku ngupas kentang sambil nyanyi. Kamu bilang aku ngomong sendiri di rumah kosong. Kamu bilang aku nanya kamu udah makan sebelum nanya apa pun."

"Noah." Noah menutup mata. "Aku nggak mau ini."

"Aku juga nggak mau." Azel tersenyum, dan senyumnya aneh, dan ia tahu itu. "Tapi aku lebih nggak mau kehilangan kamu lagi."

Dan ia berbalik, menghadap sesuatu yang tidak punya bentuk tetap itu, dan ia melakukan hal yang paling bodoh dan paling benar yang pernah ia lakukan seumur hidup:

Ia menyebut namanya sendiri, keras-keras, di tempat yang bukan dunia.