← Ambang

Bab 9

Harga Sebuah Nama

Nama Azel keluar dari mulutnya seperti sesuatu yang dilepas.

Bukan suara. Bukan teriakan. Hanya nama—dua suku kata yang sudah ia ucapkan sejuta kali tanpa pernah berpikir bahwa itu adalah benda yang bisa diberikan. Tapi di tempat ini, nama itu punya berat. Azel merasakannya meninggalkan tubuhnya seperti darah yang mengalir keluar dari luka yang tidak kelihatan.

Sesuatu yang di depannya berhenti.

Kabutnya mengeras, seperti air yang membeku, dan wajah-wajah yang berganti-ganti di dalamnya—wajah Azel, wajah ibunya, wajah perempuan tua—semuanya membeku di tengah perubahan, seperti topeng yang tertangkap basah.

"Kamu," kata sesuatu itu, dan suaranya sekarang bukan suara siapa-siapa. "Kamu memberi."

"Aku bukan memberi," kata Azel, dan suaranya lebih kuat dari yang ia duga. "Aku nyebut. Nama aku Azel. Dan kamu nggak bisa pakai, karena nama itu bukan buat kamu."

Kabut itu bergetar. Dan kemudian, untuk pertama kalinya sejak mereka masuk, sesuatu itu melakukan sesuatu yang tidak ia duga: ia mundur.

Bukan menjauh. Menunduk.

Seperti orang yang sudah lama berdiri di tengah ruangan, dan akhirnya diizinkan duduk.

"Enam puluh tahun," kata Harjo, pelan, di samping Azel. "Dia nggak pernah mundur. Sekali pun."

"Kenapa dia mundur?"

"Karena kamu nyebut nama kamu sendiri, dan kamu percaya itu nama kamu." Harjo menatap Azel. "Aku dulu nggak percaya. Aku pikir nama aku cuma label. Waktu dia manggil, aku jawab, karena aku pikir itu nggak ada artinya." Ia tertawa getir. "Itu kesalahan aku. Dan aku bayar dengan enam puluh tahun."

Azel menatap sesuatu yang menunduk itu, dan merasakan sesuatu yang tidak ia harapkan: bukan kemenangan, tapi kasihan.

"Kamu mau nama," katanya. "Kenapa?"

Kabut itu bergerak, dan suaranya keluar sangat pelan, hampir tidak terdengar. "Karena yang punya nama bisa pulang."

Azel menelan. Ia menatap Noah, dan Noah menatapnya kembali, dan di antara mereka ada pemahaman yang tidak perlu diucapkan.

"Kamu nggak bisa pulang," kata Azel. "Kamu udah di sini terlalu lama. Badan kamu udah nggak ada."

"Ya." Suara itu tidak berduka. Itu yang paling menyakitkan. "Aku tahu."

"Tapi kamu bisa berhenti." Azel melangkah maju, satu langkah, dan Noah bergerak di sampingnya, siap menariknya kembali. "Kamu bisa berhenti minta nama. Kamu bisa jaga ambang ini tanpa makan orang."

"Kalau aku berhenti," kata sesuatu itu, "siapa yang jaga?"

"Aku," kata Azel. "Aku penjaga. Itu kerjaan aku sekarang."

Kabut itu diam.

"Dan kamu," lanjut Azel, "kamu bisa jadi... apa pun yang kamu mau jadi. Bukan penjaga. Bukan yang lapar. Cuma yang tinggal."

Harjo menutup mata. Di samping Azel, Noah mengeluarkan napas panjang yang gemetar.

Sesuatu itu menatap Azel lama sekali. Lalu kabutnya mengendur, dan untuk sesaat, bentuknya menjadi jelas: seorang lelaki muda dengan pakaian dari zaman yang jauh lebih tua dari rumah neneknya, dengan wajah yang lelah, dan mata yang tidak jahat.

"Namaku," katanya, dan berhenti. "Aku lupa namaku."

Azel merasakan tengkuknya panas. Bukan panas yang menyakitkan—panas yang hangat, seperti tangan di bahu.

"Kalau kamu lupa," katanya, pelan, "kamu boleh tinggal di rumah aku. Tapi kamu nggak boleh minta nama lagi. Nggak boleh manggil. Nggak boleh ngetuk tiga kali."

Sesuatu itu menatapnya. Lalu ia melakukan sesuatu yang membuat Harjo menangis: ia menunduk dalam-dalam, seperti orang yang menyetujui kontrak, dan kemudian ia larut ke dalam kabut, dan kabut itu mengalir ke arah sumur, dan masuk ke dalamnya, dan sumur itu—tertutup.

Bukan dengan beton. Dengan kabut yang memadat, seperti air yang membeku dari dalam.

"Noah," kata Azel, dan suaranya gemetar. "Kita berhasil."

"Noah." Noah menatapnya, dan wajahnya basah. "Kamu berhasil."

Harjo berjalan ke arah mereka, dan langkahnya berbeda sekarang—lebih ringan, lebih cepat, seperti orang yang baru ingat cara berjalan. Ia berhenti di depan Noah, dan mengangkat tangan, dan menyentuh wajah cucunya dengan telapak yang tembus pandang.

"Kamu mirip bapak kamu," katanya lagi, dan kali ini tidak getir. "Bilang ke bapak kamu... bilang aku minta maaf aku nggak sempat pulang."

"Noah." Noah mengangguk, dan tidak bisa bicara.

"Dan kamu," kata Harjo, menoleh ke Azel. "Kamu cucu Harsini. Dia bakal bangga." Ia tersenyum, dan senyumnya lebar, seperti di foto tahun 1961. "Dia selalu bangga sama keluarga ini, meski keluarganya nggak pernah balas."

"Harjo." Azel melangkah. "Kamu bisa lihat dia? Kakak kamu?"

Harjo menoleh, dan untuk sesaat ia menatap sesuatu di belakang Azel—sesuatu yang tidak bisa Azel lihat, tapi yang membuat mata Harjo berkaca.

"Bisa," katanya, pelan. "Dia nunggu di sana. Dia masih pakai kebaya yang sama."

"Bilang..." Azel menelan. "Bilang aku bakal jagain rumahnya."

"Bilang sendiri," kata Harjo. "Nanti, kalau kamu udah pulang."

Ia melangkah mundur, dan tubuhnya mulai memudar dari ujung kaki, seperti kertas yang terbakar dari bawah.

"Harjo, tunggu—"

"Kamu harus pulang sekarang," kata Harjo. "Kalau kamu di sini terlalu lama, kamu bakal lupa jalan pulang. Itu yang terjadi sama aku."

"Noah, gimana caranya?"

Harjo menunjuk ke arah sumur yang sekarang tertutup kabut padat. "Lewat situ. Kamu masuk lewat cermin, keluar lewat sumur. Dan kalau kamu keluar, jangan nengok ke belakang."

Azel meraih tangan Noah. Tangan itu dingin, dan gemetar, dan sangat nyata.

"Noah. Kamu denger dia?"

"Noah." Noah mengangguk. "Aku denger."

"Jangan nengok ke belakang."

Mereka berlari.

Sumur itu tidak terasa seperti air. Ia terasa seperti kain—kain basah yang menutupi wajah, menekan, menahan—dan Azel mendorong, dan mendorong, dan di sampingnya Noah mendorong juga, dan kemudian ada cahaya, dan kemudian udara, dan kemudian—

Azel jatuh ke lantai ruang tamu, di depan cermin besar, dengan lutut menghantam papan kayu dan seluruh tubuhnya menggigil seperti orang yang baru keluar dari air es.

Di sampingnya, Noah jatuh dengan punggung, terengah-engah, menatap langit-langit.

Cermin di dinding itu retak. Bukan pecah—retak, satu garis dari atas ke bawah, seperti bekas luka yang sudah sembuh.

Dan di ruang tamu, kabut yang biasanya menempel di jendela—tidak ada.

Azel berbaring di lantai, menatap langit-langit, dan tertawa. Bukan tawa bahagia. Tawa orang yang terlalu lama menahan napas.

"Noah," katanya. "Kita keluar."

Noah tidak menjawab.

Azel menoleh, dan melihat Noah sudah duduk, dan menatapnya—tapi tatapannya aneh. Seperti orang yang melihat sesuatu yang tidak ia kenali.

"Noah?"

Noah mengerjap. "Maaf. Aku..." ia mengerjap lagi. "Aku nggak—"

Azel merasakan dingin di dadanya. "Kamu nggak tahu namaku."

"Noah." Noah menggeleng, dan wajahnya pucat. "Aku tahu kamu. Aku tahu kamu dari mana. Tapi aku nggak bisa nyebut—" Ia memegang kepalanya. "Ada yang hilang. Aku nggak tahu apa yang hilang, tapi ada yang hilang."

Azel mencoba mengingat namanya sendiri, dan tidak bisa.

Ia duduk di lantai ruang tamu, dengan Noah di sampingnya, dan ia mencari-cari di dalam kepalanya seperti orang mencari kunci di kamar gelap. Ada wajah ibunya. Ada foto di pantai. Ada kontrakan yang sudah dikosongkan. Ada bus yang berhenti di terminal kecil dengan papan nama pudar.

Tapi namanya—namanya tidak ada.

"Aku," katanya, dan suaranya aneh di telinganya sendiri. "Aku nggak tahu siapa aku."

Noah menatapnya, dan sesuatu di wajahnya berubah—bukan panik, tapi tekad, seperti orang yang sudah pernah kehilangan sesuatu dan tahu persis apa yang harus dilakukan.

"Kamu suka ngupas kentang sambil nyanyi," kata Noah.

Apa?

"Kamu ngomong sendiri di rumah kosong. Kamu nanya orang udah makan sebelum nanya apa pun." Noah merangkak lebih dekat, dan mengambil wajah Azel dengan kedua tangan. "Kamu baru enam hari di sini. Kamu nggak bisa masak, tapi kamu maksa masak, dan kamu gosongin tempe, dan kamu bilang itu 'teknik karamelisasi'."

Azel tertawa. Ia tidak tahu kenapa ia tertawa, tapi tawa itu keluar, dan di dalam tawa itu ada sesuatu yang terasa seperti pintu yang terbuka.

"Kamu nyebut nama aku di dalam sana," kata Noah. "Kamu bilang kamu mau bales. Kamu nyium aku di kamar nenek kamu, dan kamu bilang itu paling romantis yang pernah kamu denger."

Dan nama itu datang.

Bukan seperti ingatan—seperti suara. Seperti Noah menyebutnya, berkali-kali, di dalam kabut, di depan sesuatu yang lapar.

"Azel," katanya, dan suaranya pecah. "Namaku Azel."

"Azel." Noah menempelkan dahinya ke dahi Azel. "Ya. Kamu Azel."

"Aku hampir lupa."

"Aku juga." Noah memegang wajahnya, dan menatapnya seperti orang yang baru menemukan sesuatu yang hilang. "Waktu kamu keluar, aku nggak inget nama kamu. Aku inget semua yang lain. Aku inget kamu gosongin tempe. Tapi aku nggak inget nama kamu."

"Aku juga nggak inget namaku sendiri." Azel menutup mata. "Aku cuma inget kamu."

Noah tidak bilang apa-apa. Ia hanya mencium Azel—keras, canggung, dengan tangan yang masih gemetar di wajah Azel—dan Azel membalas, dan untuk beberapa saat lantai ruang tamu itu hanya berisi dua orang yang saling berpegangan seperti orang yang baru selamat dari tenggelam.

Ketika mereka berpisah, Noah menatap ruangan, ke sudut-sudut, ke cermin, ke pintu. Ia menatap lama, seperti orang yang mencari sesuatu yang sudah tidak ada.

"Noah," kata Azel. "Kamu masih bisa lihat mereka?"

Noah menatapnya. "Nggak ada," katanya, pelan. "Kosong. Aku nggak lihat apa-apa lagi."

"Kamu kehilangan itu?"

"Kayaknya." Noah tertawa, dan tawanya patah. "Aku nggak lihat apa-apa lagi. Cuma kamu."

Azel menatapnya, dan merasakan sesuatu yang campur aduk—lega, sedih, dan sesuatu yang lain, yang membuat matanya panas.

"Kamu kehilangan pekerjaan kamu," katanya.

"Noah." Noah menyandarkan kepala ke bahu Azel. "Aku baru dapet pekerjaan yang lebih baik."

Mereka berbaring di sana sampai matahari terbit, dan cahaya pertama masuk lewat jendela ruang tamu tanpa kabut, dan untuk pertama kalinya sejak Azel turun dari bus, Sukamaju terlihat seperti kampung biasa.

Dan di lantai, di antara mereka, liontin tembaga itu retak—bukan patah, retak, seperti cermin—dan tiga garis di dalamnya sudah tidak menyala lagi.

"Kenapa retak?" tanya Noah.

"Noah." Azel mengambilnya, dan menatapnya lama. "Kayaknya karena udah selesai tugasnya."

"Noah." Noah menatapnya. "Atau karena sekarang tugasnya kamu."

Azel menggenggam liontin itu, dan tidak menjawab, dan di luar jendela, untuk pertama kalinya dalam sebelas tahun, seseorang di kampung itu membuka pintu pagarnya sebelum pukul tujuh, dan menyapu halaman, dan tidak menatap ke arah rumah Harsini sama sekali.